Petani Bondowoso Keluhkan Pengurangan Subsidi Pupuk

Editor: Makmun Hidayat

BONDOWOSO — Petani di Bondowoso, Jawa Timur, mengeluhkan penerimaan subsidi pupuk yang semakin berkurang, hingga membuatnya mencari cara lain guna mencukupi kebutuhan pupuk untuk sawah.

Pengurangan subsidi pupuk itu sendiri, menurut salah satu petani di Bondowoso terjadi semenjak tahun 2020 sampai sekarang, dan belum mendapatkan jawaban atas berkurangnya subsidi yang diterima.

“Pupuk subsidi yang saya terima tidak sama seperti dulu lagi. Biasanya untuk ukuran sawah seluas 600 meter milik saya ini membutuhkan pupuk sebanyak 2 kuintal, namun sekarang pupuk subsidi yang saya dapat hanya sebanyak 1 kuintal 17 kg,” ujar pemilik sawah, Adi kepada Cendana News di daerah Pancoran, Kecamatan Bondowoso, Senin (15/2/2021).

Pengurangan pupuk  tersebut  tidak diberitahukan terlebih dahulu kepada para petani. Saat pengambilan pupuk petani hanya perlu membawa Kartu Tanda Anggota (KTA).  Berdasarkan ketentuan yang diperoleh dari KTA saat ini, petani hanya dapat mengambil dengan jumlah pupuk sebanyak 1 kuintal 17 kg.

“KTA itu saya dapatkan dari bank. Petani diharuskan untuk memiliki KTA. Untuk mendapatkan KTA saya didatangi langsung oleh bank terkait dan didampingi oleh kelompok tani yang berada di daerah sini,” tambahnya.

Ia mengaku, pertama kali merasa terbantu dengan pupuk subsidi yang diterima. Pupuk subsidi yang diperoleh yakni jenis pupuk urea. Pupuk urea merupakan pupuk yang sangat diminati oleh para petani, karena membuat tanaman terlihat cepat pertumbuhannya. Akan tetapi untuk jenis pupuk urea sendiri menjadi berkurang untuk para petani.

“Sebagai petani saya merasa memang kurang dengan jumlah itu. Sedangkan kebutuhan untuk pemupukan sawah jumlah takarannya tidak bisa dikurangi. Kalo takaran dalam pemupukan dikurangi, berpengaruh kepada hasil panen yang diperoleh nanti. Sedangkan untuk pupuk urea non-subsidi harganya mahal,” menurutnya.

Cara lain yang bisa dilakukan oleh petani, yakni mencapur pupuk urea dengan pupuk jenis ZA. Sedangkan untuk hasil panen yang bisa diperoleh oleh petani, lebih banyak saat menggunakan pupuk jenis urea.

“Untuk hasil panen yang diperoleh sekarang sudah berkurang. Kalo dibilang rugi ya gak begitu rugi, tapi kalo dibilang untung masih ada untungnya setelah dikurangi dari biaya parawatan masa tanam padi saya,” sebutnya.

Sutiono, menunjukkan KTA untuk petani di wilayah Pancoran, Saat ditemui di rumahnya, Senin (15/2/2021). -Foto: Iwan Feri Yanto

Terpisah, Sekretaris Kelompok Tani Panca Makmur, Yunan Sutiono mengatakan pengurangan subsidi pupuk terjadi sejak tahun 2019 lalu.

“Saat saya coba tanyakan kepada petugas Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) atas penurunan jumlah subsidi sebanyak hampir 50 persen, pihak PPL memberikan jawaban ketidaktahuannya atas alasan mengapa terjadi pengurangan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, berdasarkan kesepakatan awal, ketentuan harga pupuk subsidi yang berlaku dengan harga Rp170.000, namun saat petani membeli di kios ketentuan harga yang berlaku Rp250 .000. “Menurut pihak PPL, harga yang berlaku di kios merupakan harga kesepakatan antara distributor dengan pemilik kios,” ujarnya.

Pada tahun 2020 pemerintah mengeluarkan kebijakan, bahwa setiap pembelian pupuk menggunakan form kepada kios. Sedangkan untuk harga, lanjutnya, disepakati bahwa pupuk subsidi per kuintal harganya sekitar Rp180.000, namun kenyataannya berbeda harga saat di lapangan.

“Program yang diwacanakan pemerintah kita sambut dengan baik. Harga pupuk subsidi menjadi Rp180.000. Saat itu saya kumpulkan para petani yang membahas perihal pengambilan menggunakan form dan harganya sekitar Rp180.000. Ternyata berbeda di lapangan, harga yang dibeli berjumlah Rp250.000, dan para petani komplain kepada saya,” tuturnya.

Saat mendapatkan komplain, akunya, kemudian ditanyakan kepada pihak PPL, dan jawabannya tidak tahu. “Soal harga itu kebijakan yang di atas. Sedangkan saya sendiri hanya berwenang memberikan penyuluhan saja,” tambahnya.

Lihat juga...