Petani di Kulon Progo Enggan Tanam Padi IR Nutri Zink

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Sejak beberapa waktu terakhir, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Pertanian aktif mendorong para petani untuk mengembangkan tanaman padi varietas Inbrida Padi Sawah Irigasi (Inpari) IR Nutri Zink guna mencegah kasus stunting atau gizi buruk di masyarakat. 

Padi varietas IR Nutri Zink dipilih karena jenis ini memiliki kandungan zink rata-rata sebesar 34,51 ppm atau 8 pmm lebih tinggi dibandingkan padi varietas lain yang biasa ditanam petani seperti Ciherang yang hanya mengandung zink sebesar 24,06 ppm.

Zink sendiri merupakan zat yang sangat dibutuhkan ibu hamil, karena mempengaruhi pertumbuhan janin. Kekurangan zink dapat menyebabkan sejumlah hal seperti keguguran, janin prematur, cacat, kurang berkembang atau lahir dengan berat badan rendah.

Salah seorang petani Giono, warga Dusun Demen, Wijimulyo Nanggulan, saat ditemui Cendana News, Senin (8/2/2021). -Foto: Jatmika H Kusmargana

Meski begitu, upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan varietas padi IR Nurti Zink ini hingga saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan sehingga belum bisa berjalan maksimal.  Diantaranya adalah, minat petani yang cukup rendah untuk menanam padi jenis varietas ini.

Salah seorang petani, Giono asal Dusun Demen Wijimulyo Nanggulan Kulon Progo mengaku tak lagi mau menanam padi varietas IR Nutri Zink ini karena hasilnya yang jauh bila dibandingkan dengan padi varietas lainnya. Hal itu dinilai kurang menguntungkan karena mengakibatkan pendapatan petani menurun drastis.

“Dulu pernah tanam. Dari luas lahan sebesar 600 meter persegi, hanya menghasilkan gabah sebanyak 2 kwintal saja. Karena bulir padi varietas Nutri Zink sangat kecil. Berbeda dengan varietas lain seperti Ciherang. Dimana dari lahan yang sama bisa menghasilkan gabah dua kali lipat atau 4 kuintal,” ujarnya, Senin (8/2/2021).

Karena alasan itulah Giono mengaku hanya sekali menanam padi varietas IR Nutri Zink. Sementara pada musim tanam berikutnya ia kembali menanam padi varietas lain yang biasa ia tanam seperti Ciherang atau Inpari 24 yang dianggap memiliki tingkat produktivitas yang jauh lebih tinggi.

“Memang gizinya tinggi dan baik untuk ibu hamil. Tapi kan kalau dijual, petani merugi karena hasilnya minim dan tidak banyak pedagang yang mau membeli. Jadi ya hanya tanam sekali untuk dimakan sendiri. Setelah itu tidak tanam lagi,” katanya.

Meski begitu, para petani seperti Giono sendiri mengaku siap mendukung program pemerintah untuk mengembangkan padi varietas IR Nurti Zink. Selama pemerintah juga mau menyerap gabah yang dihasilkan para petani dengan harga yang sesuai. Dengan begitu diharapkan petani tidak lagi merugi.

Lihat juga...