Petani di Sikka Perlu Kembali Gunakan Terasering

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Kebun-kebun petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) di wilayah perbukitan sudah banyak yang tidak lagi menggunakan terasering yang dahulunya dipergunakan semua petani di wilayah ini, hingga berdampak pada hasil produksi pertanian yang tidak maksimal karena saat terjadi hujan lebat humus tanah akan tergerus dan lahan pertanian menjadi tidak subur.

“Semua petani dampingan kami di 3 kecamatan di wilayah barat Kabupaten Sikka yakni Mego, Tanawawo dan Magepanda semuanya menggunakan sistim terasering,” kata Carolus Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri saat ditemui Cendana News di kantornya di Kota Maumere, Senin (1/2/2021).

Win sapaannya menyebutkan, saat ini hampir sebagian petani tidak lagi menggunakan terasering padahal dahulunya kebiasaan membuat terasering selalu dilakukan para petani di lahan miring.

Ia menjelaskan, dahulu saat membuka kebun baru para petani membersihkan rumput dan menebang pohon yang tumbuh di kebun lalu batang kayu, ranting dan rumput dipergunakan membuat terasering.

“Apabila tidak ada terasering maka saat hujan air akan mengalir dan menggerus permukaan tanah dan membawanya ke dataran rendah.Unsur hara juga akan terbawa air sehingga bila tidak ada terasering maka akan terbawa ke dataran rendah dan tanah pun menjadi tidak subur,” ungkapnya.

Terasering tambah Win akan berfungsi menahan kecepatan air hujan dan membantu menyerap air hujan ke dalam tanah sehingga lahan pertanian akan menjadi lebih subur.

“Banyak juga petani yang membuat terasering dengan menggunakan batu dan menanam tanaman kelor di pinggir-pinggir terasering. Lebih banyak petani membuat terasering dengan menggunakan kayu dan ranting pohon,” terangnya.

Yuven Wangge saat ditemui di kantor Wahana Tani Mandiri (WTM) di Kota Maumere, Senin (1/2/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Sementara itu, Sekretaris Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka, Yuven Wangge mengatakan penggunaan terasering di lahan-lahan pertanian warga berdampak besar untuk mencegah erosi.

Yuven menambahkan, ketiadaan terasering mengakibatkan seringnya terjadi longsor dan banjir apalagi wilayah hutan di pegunungan sudah banyak pohon yang ditebang untuk pembukaan kebun baru.

“Ketiadaan terasering berdampak terjadinya longsor dan banjir di beberapa wilayah Kabupaten Sikka.Kecepatan air yang mengalir ke wilayah yang lebih rendah meningkat karena tidak ada penahan,” ucapnya.

Yuven meminta agar pemerintah melalui Dinas Pertanian harus mengedukasi petani agar menggalakkan kembali pembuatan terasering dan tidak membuka lahan pertanian di perbukitan dengan cara membakar lahan dan menebang pohon.

Lihat juga...