Petani Kulon Progo Lestarikan Tradisi Gotong Royong Era Soeharto

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Di tengah gempuran paham individualisme yang makin tak terbendung, sejumlah warga kaum petani di dusun Demen, Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo, masih memegang teguh tradisi leluhur yang mengedepankan semangat kebersamaan dan gotong-royong. 

Setiap awal musim tanam tiba, puluhan petani di satu wilayah dusun yang biasanya tergabung dalam Kelompok Tani, rutin mengelar kerja bakti massal untuk membersihkan saluran irigasi pertanian yang sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.

Tanpa ada paksaan, setiap petani dari berbagai kalangan usia, datang ke sawah dengan sukarela, sambil membawa arit atau cangkul untuk bekerja bersama-sama. Selain membersihkan rumput ilalang di sekitar selokan yang dapat menghambat aliran air, mereka juga rutin mengecek dinding talud irigasi, agar tetap berfungsi dengan baik.

Jemadi (59), petani warga dusun Demen Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta, Senin (8/2/2021). –Foto: Jatmika H Kusmargana

“Setiap menjelang awal musim tanam, memang kita rutin kerja bakti membersihkan saluran irigasi seperti ini. Kegiatan seperti ini sudah dilakukan petani di sini sejak puluhan tahun silam,” ujar salah seorang petani, Jemadi (59), warga dusun Demen, Senin (08/02/2021).

Menurut Jemadi, kesadaran para petani dalam melakukan gerakan kerja bakti massal di dusun itu pertama kali muncul saat masa pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden kedua RI, HM Soeharto. Kala itu, pemerintah gencar menggerakkan seluruh petani untuk bergotong-royong menjaga infrastruktur pertanian demi kepentingan bersama.

“Zaman Pak Harto kan banyak saluran irigasi pertanian dibangun. Termasuk saluran irigasi di sini yang bangun juga zaman Pak Harto. Agar saluran irigasi ini tidak cepat rusak dan tetap berfungsi dengan baik, semua petani didorong untuk kerja bakti membersihkan selokan. Tradisi itulah yang kita lestarikan sampai sekarang,” ungkapnya.

Selain merasakan manfaat secara langsung, yakni terjaganya kondisi saluran irigasi pertanian di dusun mereka, warga juga menilai kegiatan kerja bakti semacam ini juga dapat memupuk rasa kebersamaan antarpetani. Terlebih sejak pertama kali dibangun pada 1970-1980an, hingga sekarang belum ada perbaikan atau pembangunan saluran irigasi baru dari pemerintah.

“Sejak pertana kali dibangun zaman Pak Harto, ya belum ada lagi program perbaikan dari pemerintah. Walaupun sebenarnya sudah saatnya diperbaiki. Untungnya warga rutin menggelar kerja-bakti. Sehingga kondisi selokan masih cukup baik dan terjaga,” katanya.

Kecamatan Nanggulan merupakan salah satu kawasan pertanian yang sangat vital di kabupaten Kulon Progo. Sejak lama daerah ini menjadi kawasan sentra pertanian yang subur, serta menjadi penyumbang hasil panen berlimpah setiap tahunnya.

Hal itu tak lepas karena di zaman pemerintahan Orde Baru, Pak Harto berhasil membangun selokan Kalibawang sepanjang lebih dari 40 kilometer, yang menghubungkan Sungai Progo dengan sungai Bogowonto. Dan, mampu mengairi ribuan hektare lahan pertanian di Kulon Progo mulai dari kecamatan Kalibawang di ujung timur laut, hingga kecamatan Temon di ujung barat daya kabupaten Kulon Progo.

Lihat juga...