Petani Lamsel Tetap Bertahan Budidayakan Sawit

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah petani kelapa sawit di Lampung Selatan tetap bertahan hadapi sejumlah persoalan. Alih fungsi lahan, harga anjlok hingga kebutuhan pupuk bersubsidi tidak menyurutkan semangat budidaya bahan baku crude palm oil (CPO) tersebut.

Rohani, petani sawit di Desa Pematang Pasir, Ketapang menyebut ia bertahan menanam sawit meski petani lain beralih ke tanaman jagung. Tanaman investasi yang mulai bisa dipanen saat usia tiga tahun itu sebut Rohani tetap jadi penyokong ekonomi.

Lahan seluas satu hektare sebutnya merupakan kombinasi dari area tambak udang serta kebun sawit. Tanaman sawit produktif miliknya masih berpotensi menghasilkan rata-rata dua tandan buah segar sawit (TBS). Satu TBS sawit mencapai berat 10-15 kilogram.

Alih fungsi lahan sebut Rohani menjadi godaan bagi petani sawit. Sebab sebagian petani memilih membongkar tanaman untuk diganti komoditas cepat panen. Jenis jagung, jahe, sayuran dan pisang kerap menjadi pengganti untuk tanaman sawit. Namun ia masih bertahan sembari mengurus lahan tambak miliknya. Lokasi kebun sawit di tepi Sungai Way Sekampung sekaligus berfungsi mencegah abrasi.

“Petani kelapa sawit kerap menghadapi persoalan godaan mengalihfungsikan lahan, sulitnya mencari pupuk subsidi dan harga yang anjlok namun secara ekonomis tanaman sawit usia lebih dari sepuluh tahun masih produktif dan menjadi investasi bulanan,” terang Rohani ditemui Cendana News tengah menimbang hasil panen, Senin (8/2/2021).

Rohani bilang TBS sawit dibeli pengepul dengan harga bervariasi menyesuaikan umur. Panen TBS sawit pada tanaman usia 10 hingga 20 tahun dengan kualitas buah maksimal dijual seharga Rp2.100 per kilogram. Bahan pembuatan CPO untuk selanjutnya menjadi produk turunan kosmetik,minyak goreng itu dijual seharga Rp900 per kilogram. Harga tersebut pada TBS usia tanaman di bawah delapan tahun.

Meski harga anjlok normalnya bisa mencapai Rp1.300 per kilogram,ia masih bisa mendapat hasil 1 ton. Hasil Rp900.000 sekali panen masih bisa diperoleh setiap setengah bulan. Proses perawatan mudah menjadikan ia tetap mempertahankan tanaman. Pupuk untuk tambahan nutrisi tanaman diberikan memakai pupuk kimia dan pupuk organik.

“Lumpur proses penyiponan tambak udang bisa digunakan untuk pupuk sehingga bisa menyuburkan tanaman setelah dikeringkan,” cetusnya.

Lukminto, pengepul TBS sawit menyebut penanam kelapa sawit semakin berkurang. Ia harus berkeliling ke sejumlah petani di pedesaan Lampung Selatan dan Lampung Timur untuk kuota pasokan pabrik. Satu kali keliling ke sejumlah kebun ia harus mendapatkan 8 ton TBS. Jumlah luasan lahan sawit sebutnya semakin berkurang imbas petani memilih komoditas lain. Pada lahan di Lamtim lahan sebagian dirombak untuk tambang pasir.

“Karena harga anjlok petani sebagian merombak tanaman untuk penambangan pasir sedot karena lebih menguntungkan,” bebernya.

Kuota pupuk subsidi yang dikurangi pada jenis SP-36 sejak awal 2021 juga jadi faktor berkurangnya lahan. Pengepul sebut Lukminto hanya mendapat untung rata rata Rp150 untuk per kilogram TBS sawit yang dibeli dari petani. Petani  memilih mempertahankan tanaman sebagai tabungan bulanan. Sebab panen TBS sawit berpotensi menjadi penopang ekonomi saat pandemi Covid-19.

Strategi Yuwono, petani sawit di Desa Gandri, Penengahan dengan menebang sebagian tanaman. Ia memilih mempertahankan tanaman kelapa sawit yang masih produktif. Tanaman yang tidak produktif diganti dengan bibit baru. Ia masih bisa memanen lima kuintal TBS sawit setiap tengah bulan. Pada lahan yang telah ditebangi ia memilih menanam jagung.

Pengurangan tanaman dilakukan Yuwono untuk efesiensi pupuk. Berkurangnya pasokan pupuk subsidi membuat ia memilih mempergunakan pupuk organik. Pupuk dari kotoran ternak sapi sebutnya ditaburkan pada lahan sawit saat penghujan. Pupuk organik yang ditaburkan pada area lahan sawit akan mudah terserap akar saat penghujan. Selain itu pupuk organik ikut menyuburkan lahan jagung di bagian bawah lahan sawit.

Lihat juga...