PGRI Flotim Perbanyak Ilmu Melalui Kegiatan Daring

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Pandemi Corona yang melanda dunia mengubah berbagai perilaku dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan yang harus menyesuaikan dengan Covid-19. Ditiadakannya pembelajaran tatap muka membuat sekolah harus mengadakan pembelajaran daring, sehingga para guru dituntut untuk menguasai teknologi informasi dan harus banyak menimba ilmu.

“Covid-19 tidak menjadi penghalang bagi para guru untuk menimba ilmu. Justru pandemi membuat banyak waktu luang dan guru bisa memanfaatkan untuk menimba ilmu,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT, Maksimus Masan Kian, saat dihubungi Cendana News, Kamis (11/2/2021).

Pembicara dalam zoom meeting yang diselenggarakan PGRI Kabupaten Flores Timur, NTT, Fadilla M. Apristawijaya, Jumat (5/2/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Maksi, sapaannya, mengatakan untuk memfasilitasi hal ini, PGRI Flotim melaksanakan berbagai kegiatan zoom meeting dengan para pakar dan praktisi pendidikan dari seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya dengan adanya kegiatan tersebut, para guru bisa menimba ilmu dan pengalaman dari para praktisi pendidikan yang sudah meraih berbagai penghargaan dan menjadi motivator.

“Pembelajaran bisa dilakukan kapan saja, apalagi saat ini dengan perkembangan era teknologi informasi yang begitu cepat. Para guru saat ini dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif,” ungkapnya.

Pengurus PGRI Provinsi NTT, Susan Seno, S.Pd.,  menyampaikan apresiasi kepada Pengurus PGRI Flotim yang memiliki terobosan terobosan cepat, edukatif, inspiratif dan memberikan manfaat bagi guru.

Susan mengatakan, sebagai Pengurus PGRI Provinsi NTT, pihaknya bangga dan memberikan apresiasi kepada Pengurus PGRI Kabupaten Flores Timur, yang bergerak cepat dengan melaksanakan berbagai terobosan baru.

“Memang, saat ini kita sedang dilanda virus Covid-19. Semua dalam kondisi serba sulit, tetapi tidak menjadi penghalang dalam berbagi. Ruang zoom meeting sangat bermanfaat, jika diefektifkan,” kata Susan.

Aktivis pendidikan, Fadilla M. Apristawijaya, dalam kegiatan zoom meeting yang digelar PGRI Flotim mengatakan, defenisi pendidikan adalah merespons masalah kehidupan yang nyata dan pendidikan harus memanusiakan.

Dalam paparannya, Dilla mengutip beberapa pernyataan inspiratif, di antaranya, seorang murid bukan obyek yang harus diubah dan sebuah gelas kosong yang harus diisi.

“Menjadi seorang pendidik yang baik adalah seseorang yang punya keyakinan terhadap kemanusiaan. Yakin, bahwa setiap manusia mampu mencipta dan mengubah keadaan dan dunianya,” ungkapnya.

Menurut Fadilla, pendidikan berbasis masalah dalam praktiknya harus membangun kolaborasi antarguru dan menggunakan alat ukur yang terbuka.

Selain itu, kata dia, harus ada dukungan dan komitmen dari kepala sekolah dan membangun mitra dengan masyarakat serta komponennya, tidak hanya orang tua saja.

Masih menurut Fadilla, hadirnya sekolah harus untuk kehidupan dan mesti dicapai dengan pendekatan dialogis.

“Butuh keperpihakan sekolah untuk kehidupan. Kurikulum, pendidik dan proses harus dialogis. Ada beberapa sikap yang dimiliki untuk bagaimana bisa membangun dialogis, yakni sikap membumi, kasih, keyakinan pada keberdayaan komunitas dan kritis,” ungkapnya.

Lihat juga...