Pokmaswas Jalur Gaza di Flotim Amankan Telur Penyu

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Jalur Gaza di Desa Suleng Waseng, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali melakukan konservasi penyu dengan menetaskan telur penyu.

Penetasan telur penyu dilakukan setelah Ketua Pokmaswas Jalur Gaza bersama Ketua Adat Desa Suleng Waseng, menemukan seekor penyu hijau sedang bertelur di pesisir pantai di desa tersebut, sehingga telurnya diambil untuk ditetaskan.

Ketua Pokmaswas Jalur Gaza,Desa Suleng Waseng, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, NTT, Wilhelmus Melur, saat ditemui di lokasi penetasan telur penyu di desanya, Senin (8/2/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Kami saat melakukan pemantauan malam hari di pesisir pantai, menemukan seekor penyu hijau sedang bertelur,” kata Ketua Pokmaswas Desa Suleng Waseng, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, Wilhelmus Melur, saat dihubungi Cendana News, Rabu (10/2/2021).

Mus, sapaannya, menyebutkan telur penyu tersebut diamankan dan dibawa ke tempat penangkaran telur penyu milik kelompok ini untuk ditetaskan menjadi tukik, lalu dilepasliarkan ke laut.

Dia mengatakan, telur penyu diamankan agar tidak diambil orang dan dimangsa oleh predator lainnya, namun tidak diambil semua dan disisakan beberapa telur penyu agar penyu bisa kembali bertelur.

“Kami mengambil telur penyu dengan tangan dan diletakkan ke dalam ember yang ditaruh pasir, lalu dibawa ke tempat penetasan. Paling lama sejam kami sudah berada di tempat penangkaran, sebab telur jangan terlalu lama terkena udara, agar bisa berhasil ditetaskan,” ungkapnya.

Mus menyebutkan, pada 8 Februari 2021, pihaknya kembali membenamkan 109 butir telur penyu bersama anggota kelompok Jalur Gaza Desa Suleng Waseng, Petrus G. Sogen.

Sementara itu, Maria Yosefa Ojan, Kepala Perwakilan Misool Baseftin Flores Timur,  menyebutkan Pokmaswas jalur Gaza di Kecamatan Solor Selatan dan Pokmaswas Pedan Wutun merupakan Pokmaswas yang setia melakukan konservasi penyu.

Evi menjelaskan, rata-rata telur penyu akan menetas setelah dibenamkan di dalam pasir selama 40 sampai 55 hari, tergantung cuaca dan kelembapan udara di sekitar lokasi tempat penangkaran penyu tersebut.

“Rata-rata telur penyu yang berhasil ditetaskan merupakan jenis penyu hijau dan penyu lekang. Penyu belimbing jarang sekali ditemukan di perairan Flores Timur. Adanya aktivitas penetasan telur penyu ini bisa membuat penyu bisa berkembangbiak,” ungkapnya.

Evi menambahkan, telur penyu yang telah menetas dan menjadi tukik langsung dilepasliarkan ke laut, dan biasanya dilakukan saat sore hari agar menghindari tukik dimangsa oleh predator, seperti burung dan hewan laut lainnya.

“Kami mengapresiasi langkah kedua Pokmaswas ini dalam melakukan konservasi penyu, meskipun menggunakan dana pribadi. Kami selalu mempromosikan Pokmaswas ini agar bisa mendapatkan bantuan dana dari pemerintah dan lembaga lainnya,” ungkapnya.

Lihat juga...