Potensi Kerugian Puso Padi di Kudus Ditaksir Rp20 Miliar

Lahan tanaman padi yang tergenang banjir dan berpotensi puso di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah – Foto Ant

KUDUS – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mencatat, jumlah potensi kerugian akibat tanaman padi puso karena banjir mencapai Rp20 miliar.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, Catur Sulistyanto menyebut, luas potensi Puso padi mencapai ribuan hektare. “Potensi kerugian sebanyak itu, setelah kami menghitung dari total luas 3.010 hektare tanaman padi petani yang puso setelah lama tergenang banjir,” ujarnya, Senin (22/2/2021).

Besar kecilnya potensi kerugian disesuaikan dengan umur tanaman. Usia tanaman kurang dari 60 hari kerugian per hektare berkisar Rp7,5 juta. Sedangkan usia tanaman lebih dari 60 hari potensi kerugiannya bisa mencapai Rp15 juta.

Sementara lahan yang puso, banyak yang saat ini mendekati usia panen, meskipun ada pula yang baru memulai tanam. Tercatat, lahan tanaman padi puso tersebar di sejumlah desa yang berasal dari Kecamatan Jati, Mejobo, Kaliwungu, Jekulo dan Undaan dengan luas bervariasi.

Tanaman padi petani yang puso, sudah diajukan bantuan benih kepada Pemerintah Pusat, sehingga petani tidak perlu khawatir kesulitan permodalan untuk menanam kembali. Dan Pemerintah Pusat, sudah menyetujui bantuan benih untuk lahan seluas 1.800 hektare, dengan bantuan untuk masing-masing hektare sebanyak 25 kilogram benih padi.

Sementara petani lain yang gagal panen, pihaknya sudah mengajukan tambahan bantuan benih tanaman padi, untuk lahan seluas 1.300 hektare. Meskipun jumlah lahan tanaman padi yang puso cukup banyak, ternyata sudah ada petani yang mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), yang memberikan jaminan atas lahan garapan petani ketika dilanda banjir atau serangan hama.

Total lahan tanaman padi petani yang mengikuti program AUTP tersebut, seluas 322 hektare. Mereka tidak perlu khawatir, karena dipastikan akan mendapatkan klaim ganti untung. Sejak awal, Dinas Pertanian sudah mendorong para petani untuk mengikuti program tersebut. Bahkan, jauh sebelum memasuki musim penghujan yang berdampak banjir.

“Kenyataan di lapangan, masih banyak petani yang enggan mengikuti program tersebut. Padahal dari sisi biaya sangat murah, karena ada subsidi dari pemerintah,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...