Potensi RHL Agroforestry di Lampung Capai Miliaran Rupiah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Potensi produksi hasil kegiatan Rehabilitasi Hutan Lindung (RHL) capai miliaran rupiah.

Demikian diungkapkan Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung, Lampung. Potensi tersebut berasal dari konsep sistem perhutanan sosial di sekitar hutan. Selain konservasi, capaian nilai ekonomis bisa diperoleh.

Idi Bantara (kiri) Kepala BPDASHL Way Seputih Way Sekampung, saat ditemui di Ketapang, Lampung Selatan, Rabu (3/2/2021) – Foto: Henk Widi

Sejumlah kelompok pengelola hutan (KPH) yang dibina oleh BPDASHL WSS sebut Idi Bantara, ada lima lokasi. Wilayah KPH tersebut meliputi KPH Liwa, KPH Batu Tegi, KPH Pematang Neba, KPH Kota Agung Utara dan KPH Pesawaran.

Wilayah tersebut tersebar di Kabupaten Tanggamus dan Pesawaran. Volume luasan sasaran lokasi sebutnya mencapai 16.500 hektare. Sebanyak 478.500 hari orang kerja (HOK) bisa terserap.

Jenis tanaman konservasi untuk RHL yang diberikan kepada masyarakat sebut Idi Bantara, beragam. Sebanyak sepuluh jenis tanaman merupakan komoditas multy purpose tree species (MPTS).

Sesuai konsep Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tanaman itu menghasilkan buah dan mampu merehabilitasi lahan. Jenis tanaman yang dipilih berupa pala, alpukat, cengkeh, petai, durian, jengkol, nangka, kemiri, duku dan pinang.

“Rehabilitasi hutan lindung untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan kolaborasi bersama masyarakat penyangga hutan, harus memberi dampak ekonomis bagi pemerintah kawasan hutan. Tidak dikuasai masyarakat namun fungsi ekologis masih bisa terjaga sebagai media produksi dan tata air,” terang Idi Bantara, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (3/2/2021).

Kalkulasi potensi produksi hasil kegiatan RHL dengan sepuluh jenis tanaman sebut Idi Bantara, dihitung sejak 2019. Berdasarkan perhitungan, jumlah tanaman yang dibagikan kepada masyarakat sebanyak 6.600.000 batang tanaman bisa produktif.

Perhitungan buah produksi terendah pada pinang seharga Rp5.000, tertinggi buah cengkeh Rp100.000 per kilogram. Dari asumsi harga terendah semua tanaman per tahun bisa mencapai Rp5,766 miliar.

Berbagai jenis tanaman tersebut menurut Idi Bantara juga dikembangkan sejumlah KPH di Lampung. Salah satu lokasi yang digencarkan untuk penerapan agro forestry berada di Register 38 Gunung Balak. Berada di Desa Girimulyo, Kecamatan Marga Sekampung konsep RHL berbasis agroforestry mengembangkan komoditas potensial setempat.

“Lahan hutan kemasyarakatan telah dikembangkan jenis alpukat varietas siger sibatu yang memiliki nilai jual tinggi,” terang Idi Bantara.

Sebagian masyarakat juga mulai mengembangkan tanaman pala. Sebagai salah satu tanaman rempah yang dikembangkan warga bisa memperoleh hasil buah. Bagi pengembangan kawasan hutan tanaman tersebut mampu menahan longsor. Selain potensi produksi dari tanaman produktif sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) konservasi air juga bisa dilakukan.

Sarjono, salah satu warga Desa Girimulyo, Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur menyebut, warga menerima program agroforestry. Sistem tersebut memungkinkan masyarakat bisa membantu KLHK melakukan reboisasi hutan.

Sarjono, masyarakat sekitar hutan melakukan penanaman pohon produktif sekaligus menjaga kawasan Register 38 Gunung Balak, Lampung Timur, Rabu (3/2/2021) – Foto: Henk Widi

Masyarakat sekitar hutan sebutnya bisa menanam MPTS jenis jengkol, durian, alpukat, pala. Semua jenis tanaman tersebut memiliki nilai jual menjanjikan.

“Saat musim panen hasil jutaan rupiah bisa kami peroleh dari penjualan buah kepada pengepul,” bebernya.

Jenis tanaman pala yang memasuki masa panen sebutnya bisa dijual seharga Rp40.000 per kilogram. Menjual sebanyak 400 kilogram pala kering ia menyebut bisa mendapat hasil Rp4 juta.

Selain itu hasil panen alpukat sebanyak 100 kilogram dengan harga Rp8.000 saja ia bisa mendapatkan hasil Rp800.000. Hasil tersebut belum termasuk tanaman produktif kelapa, jengkol, petai, durian.

Konsep memberi kesejahteraan bagi masyarakat sekitar hutan sebutnya meminimalisir kerusakan. Warga yang telah diberi pendekatan persuasif tidak akan melakukan pembalakan liar.

Penebangan kayu keras yang potensial jadi penyangga air akan dihentikan. Penanaman komoditas alpukat yang sebagian telah dibuat menjadi bibit sekaligus menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.

Lihat juga...