PPKM Yogyakarta, Kusir Andong Wisata tak Dapat Pelanggan

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA —  Penerapan PPKM di Yogyakarta sejak beberapa minggu terakhir, benar-benar membuat sejumlah pelaku usaha di sektor pariwisata terpukul. Hal itu tak terkecuali dirasakan para kusir andong wisata yang biasa menawarkan jasanya di kawasan Malioboro dan Alun-Alun Yogyakarta. 

Minimnya wisatawan asal luar daerah yang berkunjung ke Yogyakarta, menjadi faktor utama penyebab mereka tak bisa bekerja dan mendapatkan pemasukan. Padahal para kusir andong ini, selama ini hanya mengandalkan jasa sewa andong sebagai satu-satunya sumber penghidupan keluarga mereka.

Bardi (55) warga Sewon, Bantul, misalnya, sudah hampir beberapa hari ini ia tak mendapatkan pelanggan sama sekali. Ia nampak hanya memarkirkan andongnya di kawasan Alun-Alun Utara Yogyakarta seorang diri. Meski begitu ia nampak setia menunggu pelanggan, karena cuma pekerjaan itu yang bisa ia jalani.

“Sejak PSBB kemarin, wisata di Jogja mati. Hampir tidak ada wisatawan luar daerah sama sekali. Saya sendiri sudah 3 hari narik tapi belum dapat pelanggan sama sekali. Paling seminggu narik, hanya dapat pelanggan sekali. Itupun kalau beruntung, biasanya hari Sabtu atau Minggu,” ungkapnya Selasa (9/2/2021).

Bardi (55) warga Sewon, Bantul, Selasa (9/2/2021). -Foto: Jatmika H Kusmargana

Bagi kusir andong seperti Bardi, kondisi semacam ini jelas mengkhawatirkan. Pasalnya untuk bisa sekadar stanby di kawasan wisata Malioboro dan Alun-alun Utara Yogyakarta, ia membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Selain harus membelikan pakan kuda nya, ia juga harus membeli makanan sebagai bekalnya sendiri.

“Setiap mau narik saya harus beli makanan kuda berupa rendeng satu ikat Rp30ribu serta dedak Rp5ribu. Belum untuk makan saya sendiri. Tapi seharian menunggu pelanggan, dari jam 9 pagi sampai 5 sore, belum tentu dapat pelanggan. Kalau seminggu hanya dapat pelanggan sekali, berarti saya hanya dapat pemasukan Rp50ribu-Rp100ribu. Buat beli pakan kuda saja tidak cukup,” kata bapak 3 anak itu.

Melihat kondisi semacam ini, Bardi hanya bisa berharap agar pemerintah dapat mengkaji kembali kebijakan pembatasan wilayah atau PPKM. Hal itu semata-mata agar kodisi wisata di Yogyakarta bisa bergeliat kembali. Sehingga ribuan warga yang selama ini bergantung pada sektor ini bisa bertahan hidup di tengah pandemi.

“Untuk mengatasi kondisi yang ada, saya terpaksa menghemat biaya pengeluaran untuk pakan kuda. Jika dalam sehari tidak dapat pelanggan, maka kuda juga tidak saya belikan pakan berupa rendeng. Sebagai gantinya hanya saya kasih rumput biasa. Karena saya punya dua kuda di rumah untuk ganti-ganti. Istri di rumah juga ibu rumah tangga biasa, tidak bekerja sama sekali,” pungkasnya.

Lihat juga...