Prediksi Ir. Sutami 40 Tahun Lalu, Pulau Jawa Tenggelam

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Ir. Sutami, salah satu sosok luar biasa yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Melalui pemikirannya dia mampu memprediksi wajah bangsa di masa mendatang. Pemikirannya pun selalu mendapat respons positif dan menjadi program Presiden Kedua RI, H.M Soeharto, di masa Orde Baru.

Salah satu prediksi Ir. Sutami dalam disertasi program doktornya menyebutkan, Pulau Jawa akan tenggelam dan menjadi padang pasir jika tidak melakukan sesuatu yang fundamental. Prediksi ilmuwan berbobot itu pun, mendapat respons positif Presiden Kedua RI, H.M Soeharto, dan lahirlah program transmigrasi dari Pulau Jawa-Bali ke Sumatera dan Kalimantan.

Presiden Soeharto pun membentuk Departemen Transmigrasi sebagai pondasi awal program transmigrasi secara besar-besaran, yang diistilahkan pula dengan nama bedol desa.

“Disertasi Ir. Sutami tentang prediksi Pulau Jawa tenggelam dan menjadi padang pasir saya baca di salah satu koran. Saat itu Ir. Sutami menjabat sebagai Menteri era Orde Baru, dan saya sendiri, masih di Bandung sebagai Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, sebelum ke Jakarta pada 1982 sebagai anggota DPR,” demikian kisah Moh. Mukrom As’ad, kepada Cendana News, Kamis (25/2/2021).

Mukrom mengakui, ketika membaca isi disertasi yang tayang di koran tersebut, ia belum memiliki akses langsung ke pusat. Hingga dirinya mengaku, tidak bisa mendokumentasikan pemikiran seorang genius seperti Ir. Sutami melalui disertasinya tersebut. Disertasi itu memang untuk meraih gelar doktor dalam bidang kewilayahan sebagai bagian dari iImu lingkungan hidup.

Pemikiran menarik Ir. Sutami tersebut tayang perdana pada 40 tahunan lalu, atau mendekati tahun 1980-an. Ketika itu, Ir. Sutami memang masih aktif sebagai menteri di kabinet Orde Baru. Namun sayangnya, disertasi itu tidak dia ketahui, apakah di kampus ITB atau UI.

“Keseriusan Presiden Soeharto dalam merespons prediksi ilmuwan Ir. Sutami ditunjukkan pula dengan merekrut teknokrat Prof. Soebroto untuk memimpin Departemen Transmigrasi, sebelum dipegang oleh Pak Martono, Ketua HKTI waktu itu,” ujar Mukrom As’ad.

Penunjukan Martono menjadi Ketua HKTI, saat itu untuk sinkronisasi program transmigrasi dengan kehidupan petani. Hingga Martono, waktu menjadi Menteri Transmigrasi juga menggalakkan transmigrasi secara besar-besaran guna mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Agar mencapai keseimbangan antara jumlah penduduk dan lahan yang tersedia. Manusia pun tidak merambah daerah aliran sungai, menjadikan hutan bakau sebagai tempat tinggal dan juga lainnya.

“Jika penduduk tidak seimbang dengan lahan yang tersedia, terlalu banyak dibanding lahan yang tersedia, maka di tempat yang tidak boleh didiami oleh manusia, akhirnya didiami oleh manusia. Maka, terjadilah masalah. Seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mestinya dikosongkan dari hunian. Tapi, karena kepadatan penduduk, ada yang tinggal di daerah aliran sungai,” jelasnya.

Disamping itu, karena manusia terlalu banyak dibanding luas lahan, maka mereka tinggal di lereng bukit. Akhirnya timbul masalah longsor. Karena manusia terlalu banyak tinggal di pantai, akhirnya mereka merusak hutan bakau, yang merupakan penahan air laut agar tidak timbul masalah misalnya banjir rob seperti sekarang.

Menurutnya, terutama di wilayah utara pulau Jawa,  timbullah banjir di daerah yang tidak pernah banjir sebelumnya, seperti di Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, sampai ke Semarang.

Dulu tidak pernah terjadi banjir. Saat ini, kemungkinan karena hutan bakau tidak ada lagi, maka terjadi banjir rob air laut, yang bertemu air sungai di daerah aliran sungai yang sudah sempit.

“Hal tersebut adalah bukti prediksi Ir. Sutami 40 tahun lalu. Disertasi tersebut tentu dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif. Ini bisa diteliti lagi oleh lembaga peneliti di masa sekarang untuk mempelajari lagi disertasi beliau,” tukasnya yang juga merasa prihatin dengan kondisi banjir yang melanda Indonesia saat ini.

Dia juga menyampaikan seorang pemimpin memang harus responsif. Mukrom mengambil poin penting dari disertasi Ir. Sutami, bahwa Presiden Soeharto juga sangat responsif pada hal yang sifatnya prediksi yang dikeluarkan oleh seseorang yang berbobot sekaliber Ir. Sutami dengan mengambil kebijakan skala nasional.

“Lahirnya transmigrasi itu jelas karena pemikiran Ir. Sutami yang memprediksi kepadatan tanah Jawa yang akan melebihi kapasitas lahan yang ada,” tegasnya.

Dia berharap, ada tindak lanjut dari pemikiran Ir. Sutami di masa sekarang, yang juga pernah  menggagas jembatan Semanggi sebelum dirinya menjadi menteri.

Menurutnya, disertasi itu dikeluarkan 40 tahun lalu, maka kini masih ada waktu untuk mengkaji lagi prediksi Ir. Sutami yang jika dibiarkan pada tahun 2030-2040 Pulau Jawa memang akan tenggelam dan menjadi padang pasir.

Lihat juga...