Produsen Ikan Asap Keluhkan Kenaikan Harga Batok Kelapa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Batok kelapa menjadi bahan bakar utama dalam proses pengasapan ikan manyung. Pemilihan tersebut berdasarkan kualitas asap yang dihasilkan cukup tebal, dengan durasi relatif lama, dibandingkan menggunakan arang kayu biasa.

“Selain itu, harganya juga lebih murah, dibanding arang kayu. Namun sejak seminggu terakhir, harga batok kelapa naik. Ini yang jadi kendala kita, para pembuat ikan asap di sini,” papar Nurdi, pembuat ikan asap saat ditemui di sentra pembuatan ikan asap, kampung Mangut Bandarharjo Semarang, Selasa (16/2/2021).

Dipaparkan, sebelumnya kenaikan harga batok kelapa per karung Rp 28 ribu. Sementara, saat ini harga sudah menyentuh Rp 37 ribu per karung.

“Naiknya cukup banyak, Rp 9 ribu, untuk usaha rumahan seperti kita ini, dengan ada kenaikan harga batok kelapa, juga cukup berimbas. Padahal, untuk sekali produksi satu kuintal ikan manyung, dibutuhkan sebanyak 6 bagor batok kelapa. Sedangkan dalam sehari produksi di sini, rata-rata per rumah, sekitar 4-5 kuintal,” terangnya.

Nurdi menjelaskan dengan adanya kenaikan itu, ongkos produksi pun bertambah. “Kalau rata-rata produksi 5 kuintal per hari, ongkos produksi untuk beli batok kelapa bertambah sekitar Rp 270 ribu. Angka tersebut diperoleh dari selisih kenaikan per bagor Rp 9 ribu, dikalikan 6 bagor untuk produksi per satu kuintal, dikalikan 5 kuintal produksi per hari,” lanjutnya.

Dirinya pun berharap harga batok kelapa bisa kembali turun, ke harga normal. Disinggung penyebab kenaikan, pria 47 tahun tersebut tidak mengetahui secara pasti.

“Tidak tahu, kenapa naik harganya, apa karena musim hujan atau faktor lainnya, saya juga tidak paham,” tandasnya. Hal senada juga disampaikan pembuat ikan asap lainnya, Untung.

Dijelaskan, batok kelapa tersebut didatangkan dari sejumlah wilayah di Jateng, seperti Banyumas, Purbalingga, hingga Wonosobo, yang selama ini dikenal sebagai sentra penghasil kelapa.

“Meski saat ini, kita tidak sampai menaikkan harga jual ikan manyung asap yang diproduksi, namun kalau harga batok kelapa tidak segera turun, bisa jadi harga ikan asap juga akan naik,” terangnya.

Diakuinya, saat ini pihaknya tengah berupaya mencari pemasok dari wilayah lain, meski hal tersebut tidak mudah, karena kebutuhan batok kelapa di sentra produsen ikan asap terbesar di Kota Semarang tersebut cukup tinggi.

“Di sini ada sekitar 20 rumah produksi, kalau per rumah produksi sekitar 5 kuintal ikan manyung, maka kebutuhan batok kelapa per rumah sebanyak 30 karung. Kalau 20 rumah, butuh sekitar 600 karung per hari. Memang tidak mudah mencari pemasok baru,” tambahnya.

Saat ini, pihaknya pun hanya bisa berharap agar harga batok kelapa bisa segera turun, sehingga tidak berpengaruh pada kuantitas produksi ataupun harga jual ikan asap.

“Harapannya seperti itu,” pungkasnya.

Lihat juga...