PSBB DKI Diperpanjang Hingga 8 Maret 2021

Suasana kendaraan melintasi Bundaran HI, Jakarta, Senin (14/0/2020). Pada hari pertama penerapan PSBB total di DKI Jakarta arus lalu lintas kendaraan terpantau lancar – Foto Dok Ant

JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta memperpanjang ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga 8 Maret 2021. Kebijakan tersebut bertujuan menekan laju penurunan kasus aktif, sekaligus menjaga penurunan keterisian tempat tidur isolasi di Jakarta.

Langkah tersebut diambil, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang menyebut, perpanjangan PSBB yang sebelumnya dilaksanakan pada 7 sampai 22 Februari 2021, mampu menekan laju kasus aktif di Jakarta.

Kepala Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti memaparkan, ada penurunan jumlah kasus aktif per-7 Februari 2021. Laju kasus aktif di DKI Jakarta sebesar 23.869, turun secara signifikan per-21 Februari 2021 sebesar 13.309. “Laju kasus aktif yang tampak menurun ini juga disumbang oleh peningkatan kesembuhan pasien positif COVID-19, per 7 Februari 2021 sebesar 265.359 dengan persentase kesembuhan 90,3 persen, meningkat per 21 Februari 2021 sebesar 310.412 dengan persentase 94,5 persen dari persentase kesembuhan nasional yang berada pada 85 persen,” ungkap Widyastuti.

Sejalan dengan penurunan kasus aktif tersebut, tingkat keterisian (BOR), baik itu tempat tidur isolasi maupun ICU, juga terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Hal tersebut disebutnya menunjukkan, aktivitas perawatan dan langkah Pemprov DKI untuk menambah kapasitas tempat tidur isolasi dan ICU sangat efektif meningkatkan kesembuhan pasien.

Widyastuti menyebut, per-5 Februari 2021 ada 8.259 tempat tidur, yang terisi 5.921 tempat tidur atau 72 persen. Kemudian menurun, yaitu per-21 Februari 2021 ketika kapasitas tempat tidur ditambah menjadi 8.321 unit dan terisi 5.461 tempat tidur atau 66 persen dari kapasitas yang ada.

“Sementara itu, kapasitas ICU juga mengalami penurunan, yakni per 5 Februari 2021 kapasitas ICU kita sebesar 1.133 dan terisi 842 atau 74 persen, dan pada tanggal 21 Februari 2021 kapasitas ICU sebesar 1156, terisi 817 atau 71 persen,” jelasnya.

Meskipun terjadi penurunan, baik itu kasus aktif, tingkat keterisian tempat tidur isolasi, maupun ICU, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan, masyarakat tidak boleh lengah dan harus tetap disiplin menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak).

Terlebih tantangan untuk mempertahankan laju penurunan kasus aktif ini bertambah, ketika hujan ekstrem yang melanda Jabodetabek dalam beberapa hari belakangan dan menyebabkan genangan, menuntut sebagian warga Jakarta untuk berada di tempat pengungsian.

Meski tren menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, Anies menegaskan, pihaknya tetap akan meningkatkan kemampuan pengujian, penelusuran, dan perawatan. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan jumlah test, menggalang kordinasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk melakukan tracing.

Serta meningkatkan kapasitas ketersediaan ICU dan tempat isolasi terkendali, yang di dalam hal ini hotel maupun wisma atlet. “Keberadaan tempat isolasi terkendali ini sangat membantu untuk menekan penyebaran virus, apalagi klaster keluarga masih mendominasi jumlah klaster yang di Jakarta. Sehingga saat ada yang terpapar lalu diisolasi maka akan menurunkan resiko menularkan virus ke anggota keluarga lainnya,” ucap Anies. (Ant)

Lihat juga...