Puluhan Hektare Lahan Sawah di Palas Terendam Banjir

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Luapan banjir sungai Way Pisang di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, merusak lahan pertanian. Ratusan petani di sejumlah desa pun terimbas langsung. Tanaman padi hanyut, tercabut oleh air banjir. Sebanyak 35 hektare lebih lahan sawah di Desa Sukaraja, Desa Palas, di sepanjang aliran sungai terkena dampak banjir.

Sugiyanto, salah satu pemilik lahan sawah di Dusun Muara Badas, Desa Palas Bangunan, mengatakan, banjir yang kini berangsur surut itu puncaknya terjadi pada Rabu (3/2/2021), sebagai imbas intensitas hujan tinggi.

Menurutnya, debit air sungai Way Pisang berasal dari sejumlah anak sungai di wilayah tersebut, bersumber dari Gunung Rajabasa. Hingga Kamis (4/2/2021), air yang merendam areal persawahan belum surut.

Sebagian tanaman padi usia 20 hari setelah tanam (HST), sebagian telah memasuki pemupukan tahap pertama terendam. Air yang belum surut hingga sepekan, sebut Sugiyanto, berpotensi mengakibatkan tanaman padi busuk.

Suyoko, salah satu petani di Desa Palas Bangunan, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, menyemprot hama keong mas yang muncul imbas banjir, Kamis (4/2/2021). -Foto: Henk Widi

Varietas padi Muncul Cilamaya yang tahan rendaman tidak mampu bertahan jika air tak kunjung surut. Terlebih, curah hujan tinggi masih kerap terjadi.

“Upaya melakukan penguatan tanggul telah dilakukan, namun imbas derasnya hujan tidak sebanding dengan daya tampung sungai mengakibatkan air sungai meluap hingga ke lahan persawahan, ketinggian bisa mencapai 30 hingga 50 cm, terutama lahan di dekat sungai,” terang Sugiyanto, saat ditemui Cendana News, Kamis (4/2/2021).

Dampak kerusakan tanaman padi oleh banjir sungai Way Pisang, lanjut Sugiyanto, berpotensi menimbulkan kerugian. Dampak langsung pada tanaman padi yang baru ditanam sebagian tercabut oleh banjir. Sejumlah petani terpaksa melakukan penanaman ulang atau penyulaman. Petani kerap telah melakukan antisipasi penyiapan benih cadangan untuk ditanam saat air surut.

Kerugian imbas luapan sungai Way Sekampung, ungkap Sugiyanto, mencapai jutaan rupiah. Kerugian dikalkulasi dari biaya pengolahan lahan, benih, dan biaya buruh tanam. Ia juga menyebut, dua kuintal pupuk yang telah ditebar terbuang sia sia oleh banjir. Uang yang telah dikeluarkan untuk membeli pupuk imbas banjir berimbas kerugian.

Petani lain bernama Suyoko, menyebut selain di Desa Palas Bangunan, banjir juga merusak lahan sawah di Desa Bali Agung, Desa Sukaraja. Kerusakan pada tanaman oleh air banjir berpotensi menimbulkan tanaman padi membusuk. Ia mengaku tidak bisa melakukan proses pemompaan air ke sungai. Sebab, kondisi sungai lebih tinggi dari areal persawahan.

“Petani juga harus membersihkan areal sawah yang terendam lumpur, pasir dan material sampah, termasuk hama keong mas yang terbawa banjir,” cetusnya.

Suyoko menyebut, usai proses penyulaman dengan benih padi yang berusia sama, ia juga harus melakukan penyemprotan keong mas. Keong mas masuk ke areal persawahan imbas terbawa banjir dari bagian hulu sungai. Ia juga berharap ada bantuan cadangan benih padi, agar petani tidak mengalami kerugian lebih besar.

Selain bagi petani padi, sebagian petani penanam sayur juga mengalami kerugian. Sebagian pembudidaya sayuran jenis timun, sawi, ikut terdampak oleh banjir. Meski tanggul sungai pembatas di Desa Pematang Baru telah diperbaiki, luapan sungai merusak lahan pertanian. Imbas banjir yang belum surut aktivitas petani masih terhambat imbas akses jalan tergenang air.

Lihat juga...