Punya Anak Leukemia? Ini yang Harus Dilakukan Keluarga

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Memiliki anak dengan Leukemia dalam masa pengobatan, selain harus mempersiapkan mental, ternyata juga harus ketat dalam penerapan asupan nutrisi, menjaga kebersihan dan membatasi pertemuan dengan orang lain.

Staf Divisi Hematologi Onkologi Dept. Ilmu Kesehatan FKUI-RSCM, Dr. dr. Murti Andriastuti, SpA(K), menyatakan keterlibatan orang tua dan keluarga besar bukan hanya pada awal anak terdiagnosa Leukemia. Tapi terus hingga dinyatakan remisi atau sel sumsum tulang-nya mendekati normal.

“Pengobatannya lama dan dampak kemoterapi sebagai cara pengobatan bukannya tidak berdampak. Disini peran orang tua dan keluarga besar menjadi crucial. Bukan hanya sebagai pendorong semangat anak dalam menjalankan pengobatan secara disiplin, tapi juga memastikan anak tetap sehat selama pengobatan,” kata dr. Murti dalam edukasi online kesehatan, yang diikuti Cendana News, Jumat (26/2/2021).

Untuk menjaga anak tetap sehat, yang pertama perlu diperhatikan adalah asupan makanan bagi anak Leukemia.

“Sudah pasti memang harus makanan sehat. Tapi yang perlu diingat adalah makanan yang dimakan itu bukan makanan simpanan. Artinya, harus yang baru dimasak,” urainya.

Staf Divisi Hematologi Onkologi Dept. Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A(K), saat menjelaskan tentang Leukemia dalam edukasi online kesehatan, Jumat (26/2/2021) – Foto Ranny Supusepa

Setiap makan atau minum harus langsung dihabiskan. Contohnya, jika ingin minum susu, beli susu kotak dalam kemasan kecil, yang sekali minum harus langsung habis.

“Yang kedua adalah menjaga kebersihan. Baik untuk makanan maupun lingkungan tempat tinggal,” ujarnya.

Yang terakhir adalah menjaga interaksi anak Leukemia dengan orang lain, terutama orang yang sakit.

“Semua itu perlu dilakukan hanya karena satu alasan. Yaitu, anak Leukemia ini sangat rentan dengan kuman. Apalagi jika dengan virus, akan membuat sel kankernya akan lebih cepat,” ujar dr. Murti.

Jika anak sakit, maka proses kemoterapi tidak bisa dilanjutkan.

“Kemoterapi itu sendiri memiliki dampak. Karena hingga saat ini, teknologi kemo itu belum bisa membedakan mana yang sel sehat mana yang sel sakit. Sehingga, jika anak kategori sehat saja mendapatkan dampak besar, apalagi jika dilakukan pada anak yang sakit,” tandasnya.

Ia mengakui, keberadaan anak Leukemia tidak hanya mempengaruhi keluarga inti. Tapi juga keluarga besar secara keseluruhan.

“Karena, kenyataannya, bukan hanya anak yang membutuhkan dukungan. Orang tuanya juga. Dua tahun itu bukan waktu sebentar untuk melakukan pengobatan. Disini komunitas menjadi penting artinya, untuk saling menguatkan, di samping kehadiran keluarga besar,” pungkasnya.

Lihat juga...