Puskesmas Polowijen Atasi Limbah Popok dengan Rumah Diapers

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MALANG — Limbah popok sekali pakai merupakan salah satu yang masih banyak dijumpai di sepanjang aliran sungai. Kurangnya kesadaran, serta masih adanya mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, menjadikan permasalahan ini sulit untuk ditangani.

Dilatarbelakangi permasalah tersebut, Sanitarian Puskesmas Polowijen kota Malang, Anita Resky S.K.L, menginisiasi terbentuknya Rumah Diapers sebagai wadah dalam memberikan layanan pelatihan pengolahan sampah popok sekali pakai.

Diceritakan Anita, ide untuk membuat program Rumah Diapers bermula saat dirinya melakukan survei mawas diri di Januari 2017. Ketika berkumpul bersama masyarakat, ternyata masalah yang banyak timbul di semua kelurahan adalah banyaknya sampah diapers atau popok sekali pakai yang dibuang secara bebas di sungai tanpa ada pengolahan sama sekali.

“Jadi diapers dalam keadaan masih ada kotoran BAB dan pipisnya itu oleh warga langsung dibuang ke kali begitu saja tanpa dibersihkan dulu kotorannya,” ucapnya kepada Cendana News di Puskesmas Polowijen, Rabu (24/2/2021).

Semenjak itu pihak puskesmas mulai melaksanakan penyuluhan-penyuluhan terkait perubahan perilaku, termasuk memberikan pelatihan kerajinan bunga dari sampah popok. Kemudian di 2018, saat dilakukan survei kembali, ternyata masih muncul masalah yang sama.

“Dari situ kita terus tingkatkan frekuensi pemberian penyuluhan kepada masyarakat. Kemudian di 2019 kita upgrade programnya menjadi Rumah Diapers, dengan program utamanya berupa layanan pelatihan pengolahan sampah popok sekali pakai,” urainya.

Disampaikan Anita, selanjutnya Rumah Diapers Puskesmas Polowijen bekerjasama lintas sektor, mulai dari kelurahan, kecamatan, tokoh masyarakat hingga ibu-ibu kader untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengolahan sampah popok. Seiring berjalannya waktu, ternyata rumah diapers semakin lama semakin berkembang, sehingga saat ini tercatat sudah ada tiga posko, yakni di RW 3 kelurahan Balearjosari, di RW 1 kelurahan Polowijen, dan RW 1 kelurahan Purwodadi.

“Awalnya memang kita dulu yang memberi pelatihan kepada kader-kader. Kemudian kader inilah yang menjadi perpanjangan tangan kami untuk melatih masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, pelatihan awal yang diberikan tersebut sifatnya merupakan stimulasi untuk memberikan gambaran saja bahwa sampah popok sekali pakai bisa diolah menjadi berbagai kerajinan.

“Dulu kita hanya mengajarkan membuat bunga dan pot bunga. Tapi sekarang masyarakat lebih kreatif, mereka sudah bisa membuat tas, baju maupun lampu,” ucapnya.

Lebih lanjut disampaikan Anita, untuk bisa menangani permasalahan limbah popok, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana mengubah cara berpikir masyarakat. Apalagi di tengah-tengah masyarakat masih berkembang mitos yang menyebutkan bahwa popok anak harus dibuang di aliran air dan tidak boleh dibuang di tempat sampah agar tidak menyebabkan ruam popok pada kulit bayi.

“Mitos itu yang harus kita ubah dulu, bahwa tidak ada hal yang seperti itu. Bahkan dari keahlian tidak ada penelitian yang membenarkan mitos tersebut,” sebutnya.

Jadi jika ingin membuang popok, tetap harus dibuang di tempat sampah. Tapi dengan catatan, sebelum dibuang, kotoran BAB yang ada di popok harus dibuang ke closed dulu agar tidak menyebabkan pencemaran.

Namun jika tidak ingin dibuang, popok bisa didaur ulang menjadi baku kerajinan. Caranya dengan memisahkan antara hidrogel yang ada di dalam dengan bagian lapisan luar. Hidrogel ini bisa dimanfaatkan untuk menambah daya tampung air dalam tanah bagi tanaman, sehingga dapat menghemat penggunaan air. Kemudian bagian luarnya yang terbuat dari bahan plastik tersebut bisa dicuci, kemudian dikeringkan untuk selanjutnya bisa dijadikan bahan baku untuk kerajinan.

“Cara menyucinya seperti kita mencuci baju biasa. Jadi ketika selesai membuang hidrogelnya, kemudian kita cuci seperti mencuci baju, diberi sabun kemudian dibilas. Apabila masih ragu bisa direndam dengan pewangi kemudian dikeringkan. Ketika sudah kering, maka sudah siap menjadi bahan baku untuk kerajinan,” terangnya.

Secara bahan, karena popok sebenarnya merupakan bahan plastik, jadi peruntukannya sama seperti kalau kita membuat kerajinan plastik lainnya,” tandasnya.

Menurut Anita, dengan adanya Rumah Diapers, meskipun hingga saat ini masih ada masyarakat yang membuang popok tanpa lebih dulu dibersihkan, tapi sudah tidak ditemukan pembuangan popok di sungai.

“Alhamdulillahnya di RW 8 Purwodadi yang sungainya luas sekarang sudah tidak ada lagi diapers yang dibuang disana. Jadi rata-rata dibuangnya sudah di tempat sampah dan ada juga yang menjadikannya sebagai kerajinan,” ungkapnya.

Sementara itu Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Sri Winarni, sangat mengapresiasi keberadaan inovasi Rumah Diapers sebagai upaya memberdayakan masyarakat untuk mendaur ulang sampah popok, sehingga dapat membantu kebersihan lingkungan, termasuk sanitasi.

“Selama ini popok biasanya hanya dibuang begitu saja, tapi melalui Inovasi Rumah Diapers ini bisa memberikan kontribusi dan peluang ekonomi bagi masyarakat untuk meningkatkan kesehatan dari sisi pengolahan limbah sampah popok,” pungkasnya.

Lihat juga...