Sampah Sebabkan Sejumlah Sungai di Lampung, Meluap

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kerusakan lingkungan akibat sampah menyebabkan banjir kala penghujan. Sampah yang dibuang secara sengaja mengakibatkan banjir di sejumlah aliran sungai di Lampung Selatan dan Bandar Lampung. Sejumlah sungai kecil mengalir ke sungai Way Sekampung, membawa sampah berbagai jenis didominasi plastik dan limbah pertanian.

Tantio, salah satu petani di dekat aliran sungai Way Asahan, Desa Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan, menyebut sampah menutup pintu air. Bendungan yang dibangun sejak era Presiden Soeharto tersebut kerap mengalami pendangkalan. Penyebab pendangkalan atau sedimentasi dominan oleh sampah. Sungai masih menjadi lokasi favorit untuk membuang sampah imbas pengelolaan tidak maksimal.

Usai hujan deras, bendungan sungai Way Asahan, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan dipenuhi sampah plastik dan limbah pertanian, berimbas pintu air tertutup, Rabu (10/2/2021). -Foto: Henk Widi

Menurutnya, sampah plastik berisi popok bayi, kemasan makanan ringan, botol air mineral kemasan, kerap dibuang ke sungai. Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum, kerap membersihkan sampah dengan membuka pintu air. Tumpukan sampah berupa ranting kayu, batang tanaman terbawa arus menutupi bendungan. Kesadaran masyarakat tidak membuang sampah ke sungai, masih rendah.

“Sampah yang dibuang dominan berasal dari buangan rumah tangga di selokan, saat penghujan terbawa arus air ke sungai lalu menumpuk pada satu titik dengan volume yang terus bertambah, belum lagi limbah pertanian berupa batang jagung, kulit kelapa hingga jerami yang menumpuk mengakibatkan sungai meluap ke lahan pertanian,” terang Tantio, saat ditemui Cendana News, Rabu (10/2/2021).

Tantio menyebut, sungai yang dijadikan tempat pembuangan sampah tidak hanya di Way Asahan. Beberapa sungai yang menjadi lokasi favorit membuang sampah, di antaranya Way Tuba Mati, Way Pisang. Sejumlah sampah membahayakan bagi petani dan merusak lahan pertanian dominan benda yang sukar diurai. Kaleng aluminium kemasan minuman, botol kaca yang pecah membahayakan petani.

Selain sungai Way Asahan, sampah yang menyumbang kerusakan berada di kali Gajah Mati. Kodrat Sumardi, salah satu warga Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, bilang sampah dominan limbah pertanian. Alih fungsi lahan berupa penebangan pohon di perbukitan Gunung Goci, imbasnya terasa kala penghujan. Longsoran tanah mengakibatkan sedimentasi pada sungai Gajah Mati.

“Lahan perbukitan yang semula jadi kawasan resapan air, berubah jadi lahan jagung dan tanaman semusim, saat hujan tergerus,” cetusnya.

Perilaku membuang sampah ke sungai berupa limbah pertanian, sebutnya, praktis membersihkan lahan. Namun, dampak bagi sungai di bagian hilir terjadi pendangkalan dan penyempitan alur. Potensi banjir yang merusak lahan pertanian, berimbas tanggul jebol dialami petani. Sejumlah petani mulai sadar melakukan reboisasi dengan tanaman produktif.

Berkurangnya resapan air pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Sekampung, menyumbang potensi banjir. Pembuangan limbah cangkang sawit, sampah di sungai Way Sekampung ikut meningkatkan sedimentasi.

Ahmad Rizal, salah satu warga, menyebut dangkalnya aliran sungai kerap membuat air meluap saat puncak penghujan. Memasuki Januari hingga Maret, luapan sungai menjadi siklus tahunan. Akses jalan yang rusak, susah dilintasi imbas banjir juga merusak area pertambakan udang vaname.

Meski kerusakan lingkungan terjadi pada bagian hulu, namun imbas terasa dialami warga di DAS Way Sekampung. Sungai yang mengalir dari wilayah Pesawaran, Lampung Timur itu juga tak bisa menampung aliran sungai kecil lainnya.

Sampah dibuang ke sungai juga kerap terjadi di Kali Akar,Way Balau di Teluk Betung Bandar Lampung. Alih fungsi lahan perbukitan menjadi permukiman, tambang batu, tanah timbunan berimbas longsor. Sebagian material tanah disertai lumpur ikut menyumbang sedimentasi saat penghujan. Sampah dari sungai sebagian terdampar ke permukiman warga di pesisir Teluk Lampung.

Lihat juga...