Sayur Asam Daging Sapi, Maknyus

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Sayur asam daging sapi bisa menjadi menu makan siang untuk keluarga. Dimasak dengan cita rasa kampung, resep ini bisa menambah imunitas tubuh yang bermanfaat di masa pandemi Covid-19. Sayur asam daging sapi memiliki beragam versi. Namun, daging sapi sayur asam khas kampung , lebih kepada pengolahan tulang sapi dengan sedikit daging yang masih melekat.

Sayur asam daging sapi khas kampung memiliki tampilan berbeda. Lebih dominan cabai merah dan asam dengan kuah sedikit bening. Rasanya asam, pedas.

Ocang, warga perantauan di Bekasi,Sabtu (27/22/2021). –Foto: M Amin

“Saya tidak tahu namanya, ini masakan kampung. Biasanya disebut sayur asam daging sapi gitu aja di kampung,” ujar Ocang di Bekasi, yang mengaku berasal dari Kampung Desa Gunung Sugih Besar, Lampung Timur (Lamtim), kepada Cendana News, Sabtu (27/2/2021).

Dia mengaku sudah mencari rekomendasi di internet untuk tahu jenis sayur di kampungnya itu, tapi berbeda. Karena resep sayur asam khas kampungnya itu menggunakan terasi bakar.

Ada pun bumbunya seperti bawang merah diiris, cabai rawit, asam Jawa, terasi bakar, gula garam dan penyedap jika suka. Tapi, terlebih dulu daging beserta tulang direbus hingga empuk.

“Masakan ini paling gampang karena bahan baku untuk bumbunya sangat sederhana. Tapi, rasanya maknyus. Bisa membuat keringatan karena pedasnya,” jelas Ocang, sambil menambahkan, jika menu itu cocok untuk santap siang bersama keluarga.

Menurutnya, sayur asam daging sapi di kampungnya biasa disajikan saat acara besar seperti sunatan dan lainnya. Tapi, di perantauan menjadi menu untuk mengingat kampung saja bersama teman dan keluarga di perantauan.

“Sayur asam daging sapi ini adalah cara kami untuk berkumpul di perantauan. Setiap berkumpul, menunya berbeda. Minggu ini kami coba masak sayur asam daging sapi,” jelasnya.

Rhuston, warga Gunung Sugih Besar lainnya di Bekasi, mengaku banyak makanan khas kampung yang dibuat saat berkumpul bersama seperti gulai bassal, atau seruwit. Untuk menu saat berkumpul bersama disesuaikan dengan kesepakatan.

“Kami biasa kumpul sebulan sekali untuk menjaga silaturahmi di perantauan. Pastinya ada hidangan menu makan bersama khas daerah yang dikerjakan oleh perempuannya. Laki membantu masak juga menyediakan bahan baku,” jelasnya, mengaku ada satu masakan khas daerahnya yang semua harus masak laki-laki untuk menjaga rasanya.

Lihat juga...