Semarang Optimalkan Lahan Jaga Ketahanan Pangan

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Dari luas wilayah Kota Semarang sebanyak 373,8 kilometer persegi, hanya 6 persen atau 23 kilometer persegi yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Meski demikian, keterbatasan lahan tersebut perlu dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

“Secara keseluruhan luas lahan pertanian di Kota Semarang hanya 6 persen dari luas wilayah. Meski kecil, namun kita dorong agar lahan sempit ini dapat diolah dengan baik secara optimal, agar ketahanan pangan bisa terjaga,” papar Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat dihubungi di Semarang, Senin (1/2/2021).

Pengoptimalan lahan pertanian tersebut bisa melalui beragam cara dan oleh semua orang. Misalnya, dengan pemanfaatan lahan kosong yang selama ini belum digunakan untuk pembangunan, hingga pemilihan metode pertanian yang tidak membutuhkan lahan luas atau urban farming, seperti hidroponik, polybag, hingga penggunaan pot.

“Dengan perkembangan inovasi pertanian saat ini, menanam padi pun bisa dilakukan di pot, buah, sayur dan tanaman lain, bisa dioptimalkan meski di lahan sempit,” tandasnya.

Termasuk mengajak seluruh warga Kota Semarang untuk mencintai dan menggalakkan pertanian, terutama urban farming dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Terutama dengan menggandeng para generasi muda.

“Kita harus akui, bahwa regenerasi petani itu lambat, adanya anggapan bahwa petani itu tidak keren, tidak menjanjikan dari segi pendapatan dan lainnya, itu masih menjadi pola pikir masyarakat, termasuk generasi muda. Untuk itu, kita ajak mereka untuk terjun ke pertanian,” terang Hernowo.

Caranya dengan memperkenalkan pertanian melalui media yang dikenal anak muda, yakni media sosial, hingga penggunaan teknologi digital dalam upaya mendekatkan pertanian kepada khalayak muda.

“Kita punya program kongkow bareng petani (kobar tani) atau pun pelatihan pertanian yang digelar di Urban Farming Corner, tujuannya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pertanian, sehingga mereka tertarik pada bidang ini,” tandasnya.

Hernowo mengaku, sejauh ini program tersebut cukup membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya pemanfaatan lahan sempit, seperti di pekarangan atau teras rumah,untuk lahan pertanian.

“Setidaknya hasil pertanian tersebut mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga mereka,” katanya.

Upaya pengoptimalan lahan sempit untuk pertanian, juga dilakukan Yohanes Jehamu. Warga Mangunharjo, Tembalang tersebut, juga memanfaatkan halaman rumahnya untuk menanam beragam sayur mayur.

Mesk halaman rumahnya sudah dicor semen, namun tidak menjadi penghalang. Caranya, dengan menggunakan pertanian metode polybag.

“Sesempit apa pun lahan yang ada, termasuk di halaman rumah, tetap bisa digunakan untuk pertanian. Bisa menggunakan pot atau polybag. Dengan perawatan yang baik, pemupukan teratur, hasilnya pun berlimpah,” terangnya.

Dirinya mencontohkan, untuk tanaman sayur terung ungu, dirinya bahkan bisa memanen setiap hari, setidaknya 2-3 kilogram.

“Ini bisa untuk makan sekeluarga, atau pun kalau mau dijual juga bisa, sehingga mampu meningkatkan pendapatan,” pungkasnya.

Lihat juga...