Semburan Uap Panas Bumi di Proyek Geothermal, Normal

PADANG ARO – Site Support Manager PT Supreme Energy Muaralaboh, Yulnofrins Napilus, mengatakan semburan uap panas bumi di proyek geothermal merupakan proses operasi yang normal dan biasa, bukan insiden yang tidak diinginkan, apalagi kecelakaan proses yang dapat menimbulkan kerugian.

“Semburan uap tersebut sesuai skenario desain, di mana kelebihan uap dalam sistem dikeluarkan ke udara terbuka melalui cerobong besar (AFT – atmospheric flash tank) di lokasi sumur, agar tidak mengganggu proses yang berjalan atau pun merusak peralatan dan komponen lain akibat kelebihan tekanan uap,” katanya di Padang Aro, Senin (22/2/2021).

Dia menjelaskan, tekanan uap yang melebihi ambang batas ia akan keluar secara otomatis melalui empat saluran pengaman. Uap yang keluar dari katup pengaman ini, menimbulkan suara yang keras. Bahkan, petugas di sekitar harus memakai penutup telinga. Tetapi, suaranya tidak jauh, hanya sekitar lokasi.

Terkait video yang beredar di media sosial pada 8 Februari 2021, merupakan merupakan uap air biasa dari proses pengolahan uap geothermal dan tidak mengandung gas beracun yang mudah terbakar.

Hal ini karena sistem dan proses semburan tersebut memang sengaja dirancang otomatis terjadi dalam kondisi tertentu (kelebihan jumlah uap), yang perancangannya sudah mempertimbangkan lokasi semburan (jauh dari keramaian dan lokasi pemukiman), tekanan dan temperatur semburan.

Untuk keperluan tersebut, katanya, berlokasi di ML-F, AFT sebagai tempat keluaran uap otomatis seperti ini dibangun pula di beberapa lokasi lainnya.

Pihak PT Supreme Energy belum tahu siapa yang mengambil video, apakah masyarakat yang berladang atau rekanan kontraktor. Yang pasti, warga yang mengambil video tersebut tidak izin masuk, pengambilan gambar maupun video.

Saat ini, PT Supreme Energy masih memberi toleransi dan belum ada mempertimbangkan untuk melaporkan ke polisi. Dia menambahkan, untuk pengamanan di sekitar proyek sangat ketat dan ada petugas yang patroli terus-menerus, sehingga warga tidak diperbolehkan masuk.

Tetapi, masyarakat selalu memiliki jalan lain untuk sampai di lokasi, seperti lewat bukit dan perusahaan tidak bisa mengusir langsung. “Kami berharap, Kecamatan dan Nagari membantu sosialisasi kepada masyarakat agar kejadian ini tidak terulang lagi,” ujarnya.

Kalau terjadi lagi hal tersebut, katanya, mungkin pihak perusahaan akan melaporkan ke polisi. Ssebab, telah menyebarkan berita hoaks yang meresahkan masyarakat.

Kepala Bidang Penataan peningkatan kapasitas lingkingan (P2KL) Dinas Perkim LH setempat, Murtamin, mengatakan, Supreme Energy sudah memiliki dokumen Andal dan apa saja yang harus dikerjakan sudah ada di dalamnya.

“Sebaiknya memang harus dilakukan pengujian kualitas udara saat terjadi pelepasan, sehingga kami bisa menyampaikan ke masyarakat,” katanya.

Untuk saat ini, katanya, pengujian kualitas udara dimintakan dulu ke perusahaan, sebab untuk melakukan pengujian sendiri Perkim LH belum memiliki laboratorium dan harus bekerjasama dengan pihak lain. (Ant)

Lihat juga...