Serangan Hama Burung Ancam Produksi GKP Lamsel, Menurun

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Masa tanam penghujan atau rendengan di Lampung Selatan pada sejumlah tempat memasuki masa padi berbulir atau meratak berimbas munculnya hama jenis burung pipit hingga hasil gabah kering panen (GKP) berpotensi bakal menurun.

Suranti, salah satu penanam padi varietas Mapan menyebut penanaman padi tidak serentak di wilayah tersebut. Imbasnya hama burung menyerang tanaman padi yang lebih awal ditanam.

Petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan itu bilang hama burung menyerang bulir padi muda. Jenis burung yang menyerang tanaman padi dominan jenis burung pipit kepala putih, pipit kepala hitam, tekukur dan perkutut. Jenis burung pipit sebut Suranti kerap menyerang dalam jumlah banyak. Potensi kerugian imbas burung hasil gabah kering panen (GKP) bakal menurun.

Atasi kerugian lebih banyak, Suranti bilang menggunakan teknik sederhana. Ia memilih menggunakan tali senar, tali rafia dan sejumlah plastik bekas kemasan makanan. Hama burung pipit kerap menyerang saat pagi hingga siang dan sore. Ia memilih menunggu lahan sawah bergantian dengan sang suami. Pengusiran burung dengan tali yang ditarik mengurangi serangan hama burung.

“Saat masa tanam rendengan hama burung menyerang bulir padi dalam jumlah banyak karena tanaman padi lain masih masuk masa tanam, kami menanam padi varietas Mapan karena terapkan sistem tabur benih langsung sehingga lebih cepat berbuah dengan risiko hama burung menyerang,” terang Suranti saat ditemui Cendana News, Senin (15/2/2021).

Hama burung pipit menyerang tanaman padi varietas Mapan milik Suranti di Desa Gandri, diantisipasi dengan alat pengusir burung, Senin (15/2/2021). -Foto Henk Widi

Suranti menyebut pada lahan satu hektare normalnya ia bisa mendapat hasil empat ton GKP. Namun imbas hama burung yang kerap datang dengan bergerombol hasil hanya bisa mencapai tiga setengah ton. Penurunan produksi tersebut diantisipasi dengan melakukan pengusiran manual. Penggunaan tali yang diberi plastik, pakaian bekas bertujuan agar burung tidak memangsa bulir padi.

Hama burung pipit juga menyerang padi varietas Rojolele milik Abdurohman di Sumbermuli, Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni. Ia menyebut menggunakan teknik modifikasi jaring dan alat pengusir burung manual. Memanfaatkan barang bekas pakai jenis kaleng minuman,makanan diisi kerikil. Kaleng berisi kerikil tersebut akan menimbulkan bunyi saat ditarik memakai tali.

“Hentakan kaleng berisi kerikil saat ditarik akan mengusir burung yang akan mendekat ke tanaman padi,sebagian terkena jaring,” terang Abdurohman.

Produksi tanaman padi Rojolele pada lahan seperempat hektare sebutnya bisa mencapai dua ton. Namun imbas hama burung pipit berpotensi menurun hingga satu ton setengah. Menunggu hama burung pipit sebut Abdurohman jadi salah satu solusi mengurangi kerugian. Selain menggunakan jaring, tali, ia kerap memakai meriam bambu. Jenis meriam bambu kerap dimainkan oleh sang anak sembari bermain di sekitar sawah.

Faktor meningkatnya hama burung pipit sebutnya dipengaruhi masa tanam tidak serentak. Sebagian petani yang mendapat pasokan air dari irigasi yang lancar bisa menanam padi lebih awal. Imbasnya hama burung, tikus dan ulat daun kerap menyerang. Ia memilih mempergunakan pestisida dan bahan kimia lain untuk meminimalisir hama.

“Petani hanya bisa meminimalisir serangan hama sebab tidak mungkin menghilangkan semua jenis hama,” sebutnya.

Populasi hama burung sebut Abdurohman akan meningkat saat pasokan pakan lancar. Satu rombongan burung yang menyerang kerap berjumlah ratusan ekor. Satu petak lahan sawah yang diserang hama burung akan mengalami penurunan bulir padi. Serangan akan berkurang saat bulir padi mulai menguning karena dominan burung pipit memangsa bulir padi muda.

Sebagian petani memilih mengantisipasi serangan hama burung dengan panen dini. Sepekan sebelum masa panen normal petani memilih melakukan perontokan padi. Cara tersebut diakui Abdurohman dilakukan untuk meminimalisir kerugian. Meski demikian sebagian bulir padi GKP belum berisi dan memiliki nilai jual rendah. Petani memilih menggunakan hasil panen untuk dikonsumsi keluarganya.

Lihat juga...