Serum Institute of India Prioritaskan Membuat Vaksin untuk Negaranya Sendiri

Botol dengan stiker bertuliskan, "COVID-19 / vaksin Coronavirus / Injeksi" dan jarum suntik medis terlihat di depan logo AstraZeneca yang ditampilkan dalam ilustrasi (31/10/2020) - Foto Ant

NEW DELHI – Serum Institute of India (SII), pembuat vaksin terbesar dunia berdasarkan volume, meminta pemerintah negara-negara lain bersabar, karena perusahaan itu telah diarahkan untuk memprioritaskan kebutuhan di dalam negeri.

“Saya dengan rendah hati meminta anda untuk bersabar. Kami berusaha sebaik mungkin,” kata Kepala Eksekutif SII, Adar Poonawalla, Minggu (21/2/2021).

Poonawalla mengatakan, perusahaan itu telah diarahkan untuk memprioritaskan kebutuhan India yang besar, dan bersama dengan itu tetap menyeimbangkan kebutuhan seluruh dunia.

Berbasis di kota sebelah Barat India, Pune, SII memproduksi vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Oxford University/AstraZeneca. Vaksin tersebut menjadi salah satu, dari dua suntikan, yang digunakan India untuk memvaksinasi sekira 300 juta penduduknya.

Penyuntikan tersebut pada awalnya menjadi bagian dari upaya inokulasi nasional. Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, mulai dari Bangladesh hingga Brazil, bergantung pada vaksin AstraZeneca SII, yang diberi merek COVISHIELD oleh perusahaan India itu.

Namun permintaan terus meningkat, termasuk dari negara-negara Barat seperti Kanada, dan Poonawalla berjanji, akan mengirimkan vaksin COVISHIELD bulan depan. Regulator obat Inggris juga mengaudit proses manufaktur di SII, yang berpotensi membuka jalan untuk pengiriman vaksin COVISHIELD dari India ke Inggris dan negara lain.

Pemerintah Perdana Menteri India, Narendra Modi mendapat kecaman, karena lambatnya proses vaksinasi. Tetapi otoritas kesehatan bersiap untuk memperluas jumlah suntikan secara substansial, dalam beberapa minggu mendatang.

India telah memvaksin sekira 11 juta orang, sejak pertengahan Januari. Dengan lebih dari 10,9 juta infeksi yang dikonfirmasi, India memiliki jumlah kasus COVID-19 tertinggi kedua di dunia, setelah Amerika Serikat.

Negara itu saat ini melaporkan rata-rata ada 12.000 infeksi baru di setiap harinya. Sebagian kecil dari puncaknya terjadi di September lalu. Namun, otoritas kesehatan federal pada Minggu (21/2/2021) mengatakan, mereka telah menulis kepada beberapa negara bagian yang saat ini mencatat lonjakan kasus, untuk meningkatkan pengujian, pengawasan, dan pemantauan mutasi COVID-19 secara keseluruhan. (Ant)

Lihat juga...