Stimulus PEN Masih Belum Optimal Pulihkan Perekonomian

Editor: Koko Triarko

Kepala Center of Macroeconomics and Finance, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman, pada konferensi pers INDEF yang digelar secara virtual di Jakarta, diikuti Cendana News, Minggu (7/2/2021). –Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Kepala Center of Macroeconomics and Finance, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman, menilai kebijakan pemerintah merealokasikan anggaran dan menggenjot stimulus Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), masih belum optimal.

Begitu pula dengan kebijakan menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan konsumsi dan kredit. “Meskipun dari sisi kebijakan fiskal telah dicobakan diturunkan suku bunga acuan menjadi 3,75 persen, Namun tetap belum cukup optimal untuk pulihkan ekonomi,” ujar Rizal, pada konferensi pers INDEF yang digelar virtual di Jakarta, diikuti Cendana News, Minggu (7/2/2021).

Padahal, dengan kebijakan tersebut seharusnya pembentukan kapital sudah langsung terbentuk cepat. “Tapi di tengah pandemi Covid-19, ternyata tidak mampu memberikan kontribusi signifikan,” katanya.

Lebih lanjut dia mengungkap, kemungkinan terdapat kebijakan yang tidak distimulasi dengan optimal dalam pelaksanaannya. Sehingga pengusaha dan konsumen tidak merespons penurunan suku bunga acuan yang diterapkan tersebut.

Dampaknya, kata dia, permintaan pasar atau daya beli tidak meningkat, seperti yang diharapkan pemerintah. “Apalagi suku bunga kredit terus diturunkan hingga menyentuh angka hampir 11 persen. Ini justru memperdalam kontraksi pertumbuhan ekonomi 2020,” ungkapnya.

Menurutnya, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dengan dorongan BI rate yang terus diturunkan, seharusnya pembentukan modalnya justru lebih tinggi.

“Tapi anehnya, di 2020 dengan ditekan BI rate pembentukan modal tidak terjadi, secara besarannya tidak sesuai yang diharapkan,” tukasnya.

Daya beli yang masih lemah ditambah kasus Covid-19 yang terus meningkat, menurutnya membuat efektivitas penurunan suku bunga acuan tidak bekerja maksimal. Sehingga upaya menurunkan suku bunga kredit ditambah insentif untuk mendorong supply-demand, namun tetap pemulihan ekonomi belum cukup optimal.

“Berbagai intensif dan bantuan sosial (bansos) untuk dorong demand driven, tapi malah tetap negatif. Ya, ini permasalahannya ada di daya beli, ditambah kasus Covid-19 yang tinggi,” pungkasnya.

Lihat juga...