Suka Duka Pedagang Kacamata di Jakarta

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Sejak 1990an, Herman (67) sudah berdagang kacamata di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Dengan modal Rp200.000, saat itu, dirinya sudah memiliki berbagai jenis model kacamata untuk dijajakan setiap hari, mulai pukul 10 pagi hingga sore menjelang maghrib, dengan harga satuan Rp15.000 hingga Rp20.000.

Herman mengatakan, usaha yang ditekuninya waktu itu terbilang sukses. Setiap hari bisa terjual lima kacamata, kadang bisa lebih. Dari hasil tersebut, ia bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak.

Pada 1992, Herman pindah rumah ke daerah Manggarai, dan di tempat baru itu Herman tetap menjalankan usaha berjualan kacamata. Pendapatan pun mulai meningkat,  karena persaingan usaha berjualan kacamata tidak terlalu banyak dibanding di tempat sebelumnya.

Memasuki akhir 1998, krisis ekonomi menghampiri. Dirinya sempat vakum berjualan imbas dari krisis tersebut. Uang simpanan sedikit demi sedikit mulai habis untuk keperluan dapur dan biaya sekolah anak. Barang dagangannya pun diobral murah untuk sekadar mendapatkan uang, agar dapur tetap ngebul.

Herman menambahkan, kondisi krisis yang cukup lama itu membuat dirinya berutang dan untuk membayarnya ia harus menjual rumah yang ditempati, dan selanjutnya pindah ke wilayah Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Dengan sisa uang hasil menjual rumah, dirinya kemudian tidak lagi menjual kacamata, melainkan berjualan tanaman hias seperti anggrek dan bunga sedap malam. Namun bukan untung yang didapat, tetapi malah buntung.

Menurutnya, menjual tanaman hias sangat sulit. Kemudian, semua tanaman tersebut dijualnya kepada teman dengan harga yang bisa dikatakan menyakitkan. Kemudian, Herman memutuskan untuk kembali berjualan kacamata.

“Alhamdulillah, ada yang mau memberikan pinjaman modal dengan mengembalikan modal tersebut dicicil setiap bulannya,” katanya, lagi.

Dikatakan Herman, sejak pindah ke daerah Lenteng Agung dan mulai kembali berjualan kacamata, kehidupannya tidak berubah sama sekali. Walaupun barang dagangannya sehari terjual bisa lima buah, tetapi masih belum bisa mencukupi kebutuhan rumah, karena uang tersebut harus disisihkan untuk cicilan utang.

“Kan tadi sudah saya bilang, cuma di zamannya Pak Harto aja hidup saya enak. Barang dagangan saya banyak pembelinya. Walaupun sekarang saya jual kacamata dengan harga Rp30.000, tetep belum cukup buat ini-itu. Utang saya Rp25 juta, dan masih Rp15 juta tersisa yang harus dibayar, dua anak perempuan setelah tamat sekolah langsung nikah, sedangkan dua anak cowok walaupun kerja tetep belum bisa membantu mengurangi utang, karena gaji mereka pun tidak full dibayarkan,”ucapnya.

Saat ini, Herman mengaku tetap buka jam 10 pagi dan tutup semaunya. Kalau sepi, jam 3 sore sudah tutup. “Makin tambah susah di zaman sekarang,” pungkasnya.

Lihat juga...