Suplai Magma Kecil Awan Panas Merapi Tak Muncul

Pengunjung menikmati suasana pemandangan Gunung Merapi di Kalitalang, Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (24/12/2020) – Foto Ant

YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut, kecil dan lambatnya suplai magma menuju ke permukaan, menyebabkan kejadian awan panas Gunung Merapi tidak muncul kembali.

“Jadi memang kecilnya suplai (magma) dari dalam, yang menuju ke permukaan menyebabkan kejadian awan panas belum terjadi,” kata Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, dalam siaran informasi BPPTKG “Aktivitas Merapi Terkini” yang berlangsung secara virtual di Yogyakarta, Senin (15/2/2021).

Kubah lava, yang berada di tebing barat daya Gunung Merapi berdasarkan data per 13 Februari 2021, volumenya mencapai 350.000 meter kubik. Dengan kecepatan pertumbuhan mencapai 38.000 meter kubik per hari.

Sedangkan untuk rata-rata hariannya, laju pertumbuhan kubah lava saat ini sebesar 10 ribu meter kubik per-hari, atau masih di bawah rata-rata pertumbuhan kubah lava Merapi pada umumnya, yang mencapai 20.000 meter kubik per-hari. “Umumnya Merapi itu (rata-rata) 20 ribu meter kubik per-hari pertumbuhan kubah lavanya. Pada erupsi 2006, bahkan bisa sampai 70 ribu sampai 150 ribu meter kubik per-hari,” jelasnya.

Meski laju pertumbuhan kubah lava masih lambat, Hanik berharap, masyarakat tetap waspada karena awan panas masih berpotensi muncul kembali. “Sekarang kubah lava terus tumbuh yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan awan panas. Ini yang harus kita waspadai,” tandasnya.

Sejak Gunung Merapi berstatus Siaga, puncak luncuran awan panas terjadi pada 27 Januari 2021, yang jumlahnya mencapai 52 kali dalam sehari dengan jarak luncur maksimum mencapai tiga kilometer (km) ke arah barat daya. Sedangakan untuk kubah lava baru yang muncul di tengah kawah puncak Merapi, sampai saat ini BPPTKG belum bisa mengukur volumenya karena masih terkendala cuaca. Dari sisi tenggara, guguran material juga belum terpantau keluar. “Artinya, bahwa guguran ini kemungkinan besar masih terjadi dalam kawah,” kata Hanik.

Menurutnya, pertumbuhan kubah lava tidak berhenti dan terus naik, maka status Merapi yang saat ini yang masih di level III atau Siaga akan segera dievaluasi. Begitu juga jika jarak luncur awan panas semakin jauh dan membahayakan penduduk. Berdasarkan pengamatan aktivitas Merapi periode 5 sampai 11 Februari 2021, BPPTKG mencatat aktivitas seismik (kegempaan) Gunung Merapi mengalami penurunan signifikan, demikian juga dengan deformasi, dan konsetrasi gasnya yang mengindikasikan tidak adanya tekanan magma berlebih.

Namun demikian, apabila pertumbuhan kubah lava tidak kunjung berhenti dan bahkan terus naik, menurut Hanik, status Gunung Merapi tidak menutup kemungkinan bakal dievaluasi dengan mempertimbangkan gejala-gejala yang ada. “Misalnya jika lebih intens awan panasnya atau semakin jauh jarak luncur awan panas tersebut tentu akan kami evaluasi lagi. Kalau sudah membahayakan sampai ke penduduk tentu akan kita naikkan statusnya,” kata dia.

Hingga saat ini, BPPTKG masih mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas, yang bersumber dari Kubah Lava 2021 yang ada di sektor selatan-barat daya, meliputi sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal lima km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga km dari puncak. (Ant)

Lihat juga...