Taiwan Keluarkan Izin Darurat Penggunaan Vaksin Astrazeneca

Staf bandara memakai masker untuk mencegah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), berjalan melewati toko-toko di Bandara Internasional Taoyuan, Taipei, Taiwan, Jumat (23/10/2020) – Foto Ant

TAIPEI – Otoritas di Taiwan, Sabtu (20/2/2021), mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca bersama Oxford University.

Vaksinasi, kemungkinan akan dimulai tujuh hari, setelah vaksin tiba di Taiwan. Taiwan pada Desember 2020, sepakat membeli hampir 20 juta dosis vaksin COVID-19, termasuk 10 juta dosis dari AstraZeneca dan 4,76 juta dosis dari kerja sama pengadaan vaksin global, COVAX.

Direktur Jenderal Badan Pengawas Obat-Obatan dan Makanan Taiwan, Wu Shou-mei mengatakan, izin penggunaan darurat itu telah dikeluarkan pada Sabtu (20/2/2021) pagi. “Jika prosesnya berjalan lancar, vaksinasi akan dimulai satu minggu setelah paket pertama vaksin tiba di Taiwan,” kata Wu.

Sebanyak 200.000 vaksin buatan AstraZeneca yang diperoleh dari COVAX akan tiba di Taiwan minggu depan. Taiwan juga membeli lima juta dosis vaksin dari Moderna Inc, perusahaan farmasi yang berkedudukan di AS.

Otoritas kesehatan di Taiwan, berencana memvaksin kalangan tenaga kesehatan dan petugas yang mengurusi isolasi mandiri pasien COVID-19. Taiwan berencana menyediakan 30 juta dosis vaksin untuk 65 persen penduduk pulau tersebut.

Taiwan dianggap berhasil mengendalikan pandemi berkat langkah pencegahan yang efektif. Setidaknya, saat ini hanya kurang dari 50 pasien COVID-19, yang dirawat di rumah sakit. Taiwan sampai saat ini belum menerima vaksin COVID-19.

Tetapi, karena jumlah kasus yang rendah, pejabat setempat mengatakan vaksinasi tidak begitu mendesak. Perusahaan bioteknologi asal Jerman, BioNTech SE, minggu ini mengatakan, pihaknya akan menyediakan vaksin COVID-19 untuk Taiwan.

Taiwan sempat melayangkan protes ke BioNTech, karena perusahaan itu batal menandatangani kontrak pembelian lima juta dosis vaksin pada menit-menit terakhir. Beberapa pihak meyakini, aksi itu merupakan akibat ada tekanan dari China. (Ant)

Lihat juga...