Tanaman Konservatif Produktif Beri Manfaat Ekonomi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Tanaman konservasi produktif pada kawasan penyangga hutan, ikut menopang ekonomi masyarakat. Dengan pola terintegrasi, rehabilitasi hutan dan lahan dilakukan dengan menanam pohon produktif seperti buah-buahan, sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan masyarakat.

Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung, mengatakan integrasi antara tanaman produktif berbasis konservasi dilakukan di wilayah kerja BPDASHL Way Seputih Way Sekampung.

“Tanaman tersebut meliputi durian, kemiri, pala, damar, yang bisa dimanfaatkan hasil buahnya, bunga dan gubal atau getah. Tanaman menahun berfungsi sebagai penahan longsor tersebut juga dimanfaatkan untuk sumber pakan ternak lebah madu,” kata Idi Bantara, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (10/2/2021).

Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Way Seputih Way Sekampung, Lampung, saat pameran bonsai di Ketapang, Rabu 3 Februari 2021. -Dok: CDN

Ia menjelaskan, tanaman konservasi yang diintegrasikan dengan budi daya lebah madu berupa kaliandra dan akasia. Kedua jenis tanaman itu kerap digunakan sebagai kanopi pelindung jalan. Seiring meningkatnya kebutuhan sumber pakan lebah madu, reboisasi dengan kaliandra dan akasia dilakukan. Kedua jenis tanaman sumber pakan lebah juga sebagai penyimpan air.

“Selama ini, sumber pakan lebah yang kerap ditanam berupa kopi dan kelengkeng, namun pada lahan penyangga hutan beragam tanaman reboisasi dan produksi makin beragam untuk memenuhi kebutuhan peternak lebah yang menjadi sumber ekonomi masyarakat sekitar hutan,” katanya.

Tanaman konservasi dan produktif yang ditanam, menurut Idi Bantara sebanyak 7.260.000 batang. Sepuluh jenis tanaman tersebut meliputi pala, alpukat, cengkih, petai, durian, jengkol, nangka, kemiri, duku dan pinang. Luasan lahan 16.500 hektare tersebar pada kawasan pengelolaan hutan (KPH) di Lampung. Penyediaan bibit dilakukan melalui persemaian permanen.

Masyarakat sekitar KPH, sebutnya, bisa memanfaatkan sejumlah tanaman konservasi dan produktif untuk diambil hasilnya. Namun penebangan kayu dilarang, agar tujuan rehabilitasi hutan dan lahan bisa tercapai. Berkoordinasi dengan pemangku kepentingan pemerintah daerah, kelompok tani hutan (KTH), non government organisation (NGO) peningkatan dan pendampingan sumber daya manusia terus dilakukan.

“Kami juga menggandeng mahasiswa kehutanan, agar bisa mengedukasi masyarakat sekitar hutan, tetap menjaga kelestarian tapi tetap mendapat hasil ekonomi,” cetusnya.

Sejumlah KPH yang menjadi model percontohan untuk RHL, sebut Idi Bantara, rata-rata seluas 1.500 hingga 4.000 hektare. Wilayah tersebut berada di KPH Batu Tegi, KPH Liwa, KPH Kota Agung Utara, KPH Pematang Neba, KPH Pesawaran. Sejumlah kawasan penyangga hutan di wilayah Girimulyo, Lampung Timur, juga terus dikembangkan dengan sistem pendampingan.

Setiap wilayah penyangga hutan, kata Idi Bantara, memiliki karakteristik berbeda. Solusi tanaman RHL yang akan ditanam tetap menyesuaikan kearifan lokal masyarakat setempat. Contohnya di wilayah Liwa, Lampung Barat, tanaman damar mata kucing menjadi komoditas hasil warga ratusan tahun. Sementara di wilayah Girimulyo, Lampung Timur, jenis tanaman alpukat menjadi penopang ekonomi warga.

“Keinginan masyarakat yang terintegrasi dengan konsep kelestarian hutan kita dukung melalui penyediaan bibit, sehingga kelestarian hutan terjaga,” sebut Idi Bantara.

Ekonomi masyarakat sekitar hutan yang meningkat diakui Wagiono, warga Teluk Betung. Tinggal di dekat kawasan taman hutan raya (Tahura) Wan Abdulrachman, ia bisa menikmati hasil. Saat musim durian, produksi buah menjadi penopang ekonomi. Hasil jutaan rupiah bisa diperoleh dari penjualan buah tersebut. Selain varietas lokal yang memiliki tajuk tinggi, ia mengembangkan varietas unggul.

“Hasil sampingan saat musim berbunga, saya bisa memberi sumber pakan lebah madu dengan sistem stove,” cetusnya.

Manisnya integrasi tanaman produktif di penyangga kawasan hutan dirasakan juga oleh Romli. Warga Desa Taman Baru, Penengahan, Lampung Selatan itu memiliki puluhan stove lebah madu. Hasil panen berupa madu, bipolen, malam lilin, menjadi produk yang diperoleh dalam budi daya madu. Tanaman produktif cengkih, pala dan kaliandra, menjadi sumber pakan alami lebah.

Produksi madu, sebut Romli, dikemas dalam botol ukuran 150 Ml, 250 Ml hingga 600 Ml. Harga madu ditawarkan mulai Rp70.000 hingga Rp150.000. Peluang ekonomi dengan menjaga konservasi tanaman ikut menjaga kawasan penyangga hutan kaki Gunung Rajabasa. Hasil ekonomi berbasis nonkayu memberi peluang elonomi, sehingga masyarakat tidak merambah hutan.

Lihat juga...