Tata Kelola Peternakan Sapi Perlu Perhatikan Lima Aspek

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Ketersediaan daging sapi merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan agenda ketahanan pangan nasional. Sayangnya, menurut para ahli, tata kelola peternakan sapi di Indonesia masih digambarkan seperti benang kusut, sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Mengutip hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), Direktur Operasional PT Lembu Jantan Perkasa, Haryanto Budi Raharjo, kebutuhan konsumsi daging sapi di Indonesia mencapai 2,5 kilogram per kapita per tahun, atau sama dengan 663 juta kilogram daging sapi.

“Itu artinya setiap tahun kira-kira harus dipotong 4 juta ekor sapi dalam setahun untuk penuhi kebutuhan dalam negeri,” ujar Haryanto dalam webinar bertajuk Upaya Mencapai Ketahanan Pangan Melalui Usaha Sapi Potong, Senin (15/2/2021).

Haryanto Budi Raharjo memberikan paparan dalam webinar bertajuk Upaya Mencapai Ketahanan Pangan Melalui Usaha Sapi Potong, Senin (15/2/2021). -Foto: Amar Faizal Haidar

Haryanto menambahkan, populasi sapi di Indonesia rata-rata 16-17 juta ekor per tahun. Sementara itu, kemampuan peternakan sapi hanya mampu menyuplai kebutuhan di dalam negeri sebanyak 2,6 juta ekor per tahun.

“Jadi ada kurang 1,5 juta ekor. Kekurangan itu suka atau tidak suka harus impor,” tandas Haryanto.

Adapun sebaran peternakan sapi masih terpusat di lima provinsi, yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Dari lima provinsi itulah, sapi disebar ke seluruh Indonesia.

“Jadi memang bisa dibayangkan betapa sulitnya sapi-sapi itu harus disebar ke wilayah Indonesia yang besar dan terpisah, tentu biaya operasional dan logistiknya besar,” tukas Haryanto.

Di forum yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Ilmu Sosial Ekonomi Peternakan Indonesia (Persepsi), Agus Kuntoro menyampaikan bahwa ada lima aspek pada sektor peternakan yang perlu diperhatikan, Pertama tentang pembibitan.

“Ini adalah masalah klasik. Kalau tidak bisa ditata dengan baik maka kedepan ternak seperti sapi, kerbau, domba dan sebagainya itu bisa habis. Dan ini bisa membuat nilai impor terus meningkat,” ungkapnya.

Agus Kuntoro memberikan paparan dalam webinar bertajuk Upaya Mencapai Ketahanan Pangan Melalui Usaha Sapi Potong, Senin (15/2/2021). -Foto: Amar Faizal Haidar:

Aspek kedua adalah peningkatan produktivitas ternak melalui penyediaan pakan yang bermutu dengan keragaman sumber daya dan kelembagaan serta teknologi lokal.

“Aspek ketiga yang perlu diperhatikan adalah, kebanyakan peternakan di Indonesia masih dikelola secara tradisional. Walaupun di sisi industri sudah maju, tapi di level peternak kecil yang kira-kira sebanyak 80-90 persen masih tradisional,” jelas Agus.

Keempat adalah meratakan tingkat konsumsi di berbagai daerah. Ini diperlukan distribusi yang merata. Sehingga ukuran ketahanan pangan salah satunya adalah keterjangkauan, perlu dipertimbangkan dengan seksama.

“Aspek kelima adalah mengembangkan produk pangan dari hasil ternak dengan memperhatikan budaya dan kebiasaan konsumsi masyarakat. Ini bisa mengurangi nilai impor juga,” paparnya.

Agus menekankan bahwa persoalan-persoalan tersebut merupakan pekerjaan rumah yang sangat mendesak untuk segera dikerjakan, terutama bagi para ahli peternakan dan pelaku peternakan.

“Kita semua perlu sinergi antara pemerintah, dunia industri, akademisi kemudian lembaga keuangan, peternak, untuk menyediakan pangan dari hasil ternak yang memadai,” pungkas Agus.

Lihat juga...