Terserang Virus ASF Peternak Babi di Sikka, Rugi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Ribuan warga di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama tahun 2020 hingga tahun 2021 mengalami kerugian miliaran rupiah akibat ternak babi peliharaan mereka terserang penyakit Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).

“Babi saya yang mati terserang penyakit ada 8 ekor belum lagi masyarakat di hampir semua wilayah Kabupaten Sikka,” kata Elisia Digma Dari, warga Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di rumahnya, Senin (22/2/2021).

Salah seorang peternak babi di Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Elisia Digma Dari saat ditemui di rumahnya, Senin (22/2/2021). Foto: Ebed de Rosary

Elis menyebutkan, ssjak Kamis (18/2/2021) hingga Minggu (21/2/2021) 8 ekor babi miliknya mati mendadak berturut-turut dan dirinya pun harus menggali tanah untuk menguburnya.

Ia menyebutkan dari sebanyak 8 ekor tersebut 1 ekor berumur 3 tahun, 2 tahun 2 ekor, 1,9 tahun 2 ekor, 1 tahun 2 ekor serta berumur 4 bulan sebanyak 1 ekor dan semuanya dikubur di halaman.

“Saya mengalami kerugian kurang lebih di atas Rp25 juta. Padahal memelihara hewan merupakan investasi sehingga saya sangat stres karena kehilangan pendapatan yang besar,” ujarnya.

Elis mengaku, Dinas Pertanian melalui Bidang Kesehatan Hewan belum datang melakukan pendataan apalagi ada ganti rugi atau bantuan dari pemerintah daerah.

“Saya sudah kehilangan pendapatan akibat sektor pariwisata mati suri sehingga pekerjaan sebagai pemandu wisata berhenti total. Mau coba cari uang dengan beternak babi malah semakin mengalami kerugian,” sesalnya.

Kepala Seksi Kelembagaan, Veteriner, Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, drh. M.A. Yersi Dua Bura, menyebutkan, selama bulan Januari 2021 virus ASF telah menyebabkan 624 ekor babi mengalami kematian mendadak.

Yersi sapaannya menyebutkan, berdasarkan rekapan data oleh petugas lapangan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) selama bulan Januari 2021 jumlah babi yang mati tersebar di Kecamatan Alok Timur 7 ekor, Alok 22 ekor dan, Alok Barat 48 ekor.

“Selain itu di Kecamatan Nita 54 ekor, Koting 68 ekor, Nelle 99 ekor, Kangae 21 ekor, Kewapante 2 ekor dan Hewokloang 4 ekor. Terbanyak ada di Kecamatan Talibura 103 ekor, Waiblama 3 ekor, Doreng 83 ekor, Magepanda 11 ekor, Lela 54 ekor dan Mego 28 ekor,” paparnya.

Yersi menjelaskan, data ini yang terlapor berdasarkan kunjungan petugas dan data di lapangan pasti lebih banyak lagi karena banyak warga yang tidak melaporkan kepada petugas kesehatan hewan.

Bidang Kesehatan Hewan kata dia, telah mengambil langkah-langkah untuk meminimalisir kematian babi milik warga dengan turun langsung untuk melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi.

“Kami juga melakukan disinfeksi kandang babi. Kami juga melakukan injeksi vitamin kepada babi yang sehat dan pemberian suplemen serta melakukan pengawasan pasar ternak,” ungkapnya.

Lihat juga...