Tiga Pekan Pembatasan Waktu Operasional, Pelaku Usaha Rugi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pembatasan jam operasional kegiatan usaha di Bandar Lampung telah masuk pekan ketiga. Sejumlah pelaku usaha pinggir jalan yang diperbolehkan beroperasi hingga pukul 22.00 WIB mulai mengeluh.

Dewi, pedagang kuliner nasi goreng dan makanan lain di Jalan Ikan Tongkol, Teluk Betung, Bandar Lampung menyebut surat edaran Nomor 440/133/IV.06/2021 telah diterapkan sejak akhir Februari silam.

Selama tiga pekan ia menyebut membuka warung makan sejak sore. Pembatasan jam operasional berdampak pembeli berkurang terutama yang makan di tempat.

Normalnya ia bisa menyiapkan nasi goreng hingga belasan kilogram. Kuliner kwetiau, mie rebus, bihun goreng, capcay yang disiapkan lebih sedikit. Ia beralasan menyediakan stok terbatas hindari tidak terjual.

Kerugian yang dialami sebutnya dengan volume penjualan yang menurun. Pembatasan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 sebutnya dilakukan dengan jam operasional yang dikurangi.

Meski memaklumi pembatasan pada masa adaptasi kebiasaan baru dampak bagi usaha omzet anjlok. Ia menyebut sebaiknya pembatasan waktu ditiadakan dengan operasional usaha menerapkan protokol kesehatan.

“Dampak bagi pelaku usaha kecil seperti saya sangat terasa karena selama belum dibatasi jam operasional saja sudah menurun omzetnya, bahkan saat kami buka hingga dini hari, namun tiga pekan terakhir semakin menurun pendapatan karena waktunya berkurang,” terang Dewi saat ditemui Cendana News, Selasa malam (16/2/2021).

Sebagai pedagang pinggir jalan, Dewi menyebut melayani pelanggan yang akan makan di tempat. Pengaturan tempat duduk sebutnya cukup efektif untuk mengikuti protokol kesehatan.

Meski telah dilakukan protokol kesehatan namun jumlah konsumen yang makan di tempat terbatas. Omzet mencapai lebih dari satu juta kini berkurang hanya ratusan ribu.

Pada sektor jasa permainan anak-anak, pembatasan jam operasional juga dialami pelaku usaha. Rahmat, salah satu penyedia jasa permainan mobil mini tenaga baterai di lapangan Gajah Enggal mengaku pengunjung berkurang.

Rahmat, membantu sang ayah menyewakan permainan mobil mini tenaga baterai di taman Gajah, Jalan Sriwijaya, Enggal, Bandar Lampung yang sepi saat pandemi, Selasa sore (16/2/2021) – Foto: Henk Widi

Ia membantu sang ayah menyewakan mainan mobil mini Rp15.000 setiap 15 menit. Normalnya ia bisa mendapat omzet hingga ratusan ribu per hari dari mobil mini yang disewa.

“Sekarang banyak yang datang tapi jarang yang main, kalaupun ada dibatasi hingga jam sepuluh malam,” terangnya.

Tempat bermain taman Gajah sebutnya jadi favorit bagi anak-anak. Namun selama pandemi, pembatasan jam operasional pelaku usaha permainan dibatasi.

Beroperasi sejak pukul 15.00 WIB ia bisa menjalankan usaha selama hampir delapan jam. Namun terkadang hujan turun berimbas ia tidak mendapat penyewa mobil mainan.

Di pusat kegiatan olahraga (PKOR) Sumpah Pemuda, Way Halim, sejumlah penyedia permainan anak-anak sepi penyewa.

Nurmanto, penyedia delman hias mengaku setiap hari ia hanya beroperasi sekitar delapan jam. Meski demikian ia hanya mendapatkan pelanggan maksimal hingga sepuluh orang per malam. Satu orang yang naik delman bertarif Rp10.000 hingga Rp15.000 per orang.

Pembatasan waktu operasional sebutnya ditandai dengan penutupan gerbang. Area PKOR Sumpah Pemuda yang dibuka sejak siang hingga malam hanya dibatasi pada pukul 22.00 WIB.

Personel satuan tugas (Satgas) Covid-19 sebutnya akan memberi peringatan kepada penyedia jasa permainan, pedagang kuliner. Waktu operasional singkat berdampak pada berkurangnya omzet bahkan merugi.

Selain di PKOR Sumpah Pemuda, pelaku usaha yang beroperasi di area taman depan Masjid Al Furqon, Bandar Lampung sepi.

Lokasi yang kerap dipakai untuk berjualan kuliner, permainan odong-odong anak-anak terlihat lengang. Sejumlah pedagang yang masih bertahan didominasi pelaku kuliner gerobak yang bisa berpindah lokasi.

Lihat juga...