Tren Tanaman Hias Menurun, Omzet Pelaku Usaha Turun Drastis

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Mulai menurunnya tren hobi tanaman hias di masyarakat saat ini, membuat sejumlah pelaku usaha tanaman hias di Yogyakarta harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di masa pandemi.

Salah satunya seperti dilakukan seorang pedagang tanaman hias asal Gamping Sleman Yogyakarta, Lina(40). Ibu tiga anak ini sendiri mengakui mulai menurunnya tren hobi tanaman hias di masyarakat sejak sekitar 1 bulan terakhir.

Hal itu dibuktikan dengan penurunan omzet penjualan tanaman hias miliknya hingga mencapai 300 persen lebih jika dibandingkan beberapa bulan lalu saat tren tanaman hias sedang booming. 

“Ya saat ini memang sudah jauh menurun. Kalau dulu sehari saya bisa laku hingga 200 an tanaman per hari, sekarang paling banyak hanya 50 tanaman per hari. Bisa laku sebanyak itu saja sudah bagus,” ungkapnya, Selasa (2/2/2021).

Menurut Lina, menurunnya hobi memelihara tanaman hias sebagaimana terjadi saat ini, merupakan sebuah siklus tahunan yang memang biasa terjadi. Pasalnya minat masyarakat untuk memelihara tanaman hias memang sangat dipengaruhi oleh musim.

“Kemarin itu bisa booming karena memang momennya pas saat awal musim penghujan. Sehingga banyak masyarakat mulai menanam tanaman. Apalagi adanya pandemi Covid-19 membuat orang lebih banyak di rumah sehingga ingin mencari kesibukan,” ujarnya.

Seiring memasuki akhir musim penghujan, tren memelihara tanaman dikatakan biasanya akan mulai menurun. Tren atau hobi menanam ini akan kembali muncul tahun depan saat awal musim penghujan kembali datang.

“Karena penjualan sudah tidak seramai kemarin-kemarin, biasanya pedagang tanaman hias akan mulai fokus untuk melakukan budidaya atau perbanyakan bibit tanaman. Sehingga saat nanti musim penghujan tiba, stok dagangan melimpah” ujarnya.

Selain fokus melakukan pembibitan tanaman, Lina sendiri juga mengaku mulai menjalankan usaha miliknya di bidang lain yakni berjualan makanan. Terlebih ia sendiri memang sudah menjalankan usaha berjualan makanan sejak sebelum tren atau hobi tanaman hias booming. 

“Karena tanaman hias saat ini mulai sepi, akhirnya saya kembali menjalankan usaha kuliner yakni berjualan makanan. Meskipun usaha tanaman hias tetap jalan walaupun hanya sekadar sambilan,” ungkapnya.

Meski begitu, Lina mengakui usaha di bidang kuliner memang memiliki tipikal yang agak berbeda jika dibandingkan dengan usaha tanaman hias. Dimana usaha kuliner akan sangat terpengaruh pada kebijakan maupun kondisi ekonomi di masyarakat baik secara lokal maupun nasional.

“Misalnya saat pemberlakuan PPKM/PSBB di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Tentu akan sangat berpengaruh. Karena otomatis jumlah wisatawan yang datang ke Jogja sangat minim. Berbeda dengan usaha tanaman hias yang tidak terpengaruh sama sekali,” pungkasnya.

Lihat juga...