UMKM Terdampak Pandemi, Ribuah Pekerja di Banyumas Dirumahkan

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO – Dari data Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinakerkop UKM) Kabupaten Banyumas selama pandemi Covid-19 total sudah ada 5.432 pekerja yang dirumahkan dan 245 pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal tersebut disebabkan banyak sektor usaha yang terdampak, termasuk sektor UMKM.

Kepala Dinakerkop UKM Kabupaten Banyumas, Joko Wiyono mengatakan, pandemi yang berkepanjangan, hampir satu tahun lamanya membuat banyak sektor usaha yang goyah. Untuk bisa tetap bertahan, terpaksa harus ada pengurangan pekerja, baik yang dirumahkan ataupun yang terpaksa harus di PHK.

”Kita tidak bisa melarang untuk merumahkan pekerja ataupun memutuskan hubungan kerja, karena hal tersebut tergantung pada kemampuan masing-masing usaha. Hanya saja, selalu kita dorong dan ingatkan, bahwa untuk hak-hak pekerja baik yang dirumahkan maupun yang di PHK, harus dipenuhi,” ucapnya, Selasa (2/2/2021).

Dari ribuan pekerja yang dirumahkan dan ratusan pekerja yang di PHK, lanjutnya, sebagian besar dari sektor pariwisata dan perhotelan. Selain itu ada juga dari jasa produksi.

“Sektor pariwisata dan perhotelan ini memang yang paling terpukul, karena beberapa kali tempat wisata harus ditutup total. Penutupan tersebut juga berdampak langsung terhadap tingkat hunian hotel, karena untuk hotel-hotel di kawasan Baturaden sangat mengandalkan dari kunjungan wisatawan,” jelasnya.

Saat ini ketika sektor pariwisata kembali dibuka, beberapa pekerja yang dirumahkan mulai ada yang ditarik kembali untuk bekerja. Meskipun jumlahnya belum begitu banyak, namun setidaknya hal tersebut menunjukan arah positif untuk perkembangan usaha wisata dan perhotelan ke depannya.

Menurut Joko Wiyono, pembukaan kembali sektor pariwisata akan sangat berpengaruh terhadap kebangkitan UMKM di Banyumas. Mengingat banyak UMKM yang juga bergantung pada pariwisata, terutama yang berlokasi di sekitar kawasan Baturaden.

Sementara itu, salah satu pemilik hotel di Baturaden, Endang Istanti mengatakan,  sebelum penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), tingkat kunjungan hotel sudah menurun karena pandemi Covid-19. Target kunjungan hotel tidak tercapai selama berbulan-bulan. Dan penerapan PPKM tahap pertama lalu semakin menurunkan tingkat hunian hotel.

“Tentu saja sangat terdampak, seluruh pengusaha hotel menyatakan terdampak. Namun yang paling terasa dampaknya adalah untuk hotel-hotel yang berada di kawasan wisata. Beruntung untuk PPKM tahap dua ini, pariwisata sudah diperbolehkan untuk buka, sehingga kita sedikit bisa bernafas lega,” tuturnya.

Endang Istansi sendiri memiliki hotel yang berada di kawasan wisata Baturaden. Hotel tersebut sangat bergantung pada tingkat kunjungan wisatawan, 50 persen lebih tamu yang menginap adalah wisatawan.

Lihat juga...