Vegetasi Mangrove Dukung Budidaya Perikanan Berkelanjutan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Keberadaan vegetasi mangrove ikut mendukung sektor perikanan budidaya berkelanjutan. Wayan Suwarno, warga pemilik tambak sekaligus Sekretaris Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan menyebut mangrove jenis rhizopora atau bakau dan avicennia atau api api dilestarikan. Vegetasi tersebut tumbuh subur di pantai seluas lebih kurang 60 hektare lebih.

Konektivitas antara pantai, laut, sungai dan lahan pertambakan tidak terlepas dari vegetasi mangrove. Sejak puluhan tahun silam pasokan air untuk pertambakan tersaring secara alami. Sebelum sampai ke kanal pertambakan, air laut tersaring dari bahaya pencemar. Imbasnya produktivitas udang vaname, ikan nila gips cukup memuaskan.

“Saat panen air tambak udang dan ikan tidak langsung dibuang ke laut melainkan ke vegetasi mangrove yang sebagian terserap agar tidak menimbulkan pencemaran. Sebaliknya air dari laut juga dijernihkan saat melintasi area vegetasi,” terang Wayan Suwarno saat ditemui Cendana News, Rabu (24/2/2021).

Mempertahankan mangrove sebutnya jadi solusi tambak berkelanjutan. Berdampingan dengan lingkungan yang terjaga memberi benefit jangka pendek dan panjang. Endapan proses pembuangan air tambak dalam penyiponan atau pengurasan dibuang pada lahan mangrove.

Made, salah satu pemilik tambak lain menyebut kanal kanal terkoneksi dengan laut melintasi vegetasi mangrove. Jenis tanaman yang memiliki akar napas tersebut berfungsi juga sebagai filter alami.

“Tidak bisa dipungkiri saat masyarakat menjaga lingkungan dengan kelestarian vegetasi mangrove, dampak positif petambak sangat terasa,” sebutnya.

Vegetasi mangrove sebutnya sebagai benteng alami, sabuk hijau (greenbelt) juga penahan abrasi. Saat angin utara dan selatan ia tidak kuatir permukiman terkena terjangan angin. Kerusakan tambak oleh gelombang bisa dicegah karena tanaman mangrove berfungsi sebagai pemecah ombak.

Harsono, nelayan di pantai Tanjung Sembilang, Desa Bandar Agung, Sragi menyebut saat banjir ia mendapat berkah. Sebab saat penghujan ia bisa mendapat hasil ikan sembilang atau lele laut. Lokasi mangrove sebutnya jadi tempat memasang jaring dan bubu. Tanpa adanya mangrove habitat ikan akan hilang.

Harsono bilang saat penghujan vegetasi mangrove juga jadi tempat berkembangbiak ikan. Selain ikan ia bisa mendapat tangkapan jenis udang lobster, kepiting. Kakap putih dan ikan kerapu juga bisa diperoleh. Saat banjir kiriman lumpur juga menjadi penyubur bagi vegetasi mangrove.

“Banjir ikut menjaga suksesi alami vegetasi mangrove yang sebagian tumbuh dari biji,” bebernya.

Harsono, nelayan pantai Tanjung Sembilang, Desa Bandar Agung, Sragi, Lampung Selatan mendapat berkah saat banjir dengan memasang bubu, Rabu (24/2/2021). Foto: Henk Widi

Pembudidaya kerang hijau, Amran Hadi, menyebut pelestarian pantai mendukung budidaya. Sampah yang dibuang mengotori laut ikut merusak lokasi budidaya. Penggunaan tonggak kayu, bambu sebagai tempat budidaya sebutnya berfungsi ganda untuk alat pemecah ombak (APO). Lingkungan yang bersih juga membuat kerang hijau atau Perna viridis bebas pencemaran timbal.

Keberadaan vegetasi mangrove pada sejumlah pulau di Ketapang sebutnya mendukung perikanan budidaya. Selain kerang hijau ia juga membudidayakan rumput laut. Vegetasi mangrove di pulau Seram, pulau Seruling membantu memfilter air laut. Imbas positifnya sektor budidaya kerang hijau, rumput laut tetap berlangsung. Warga juga tetap mempertahankan keberlangsungan vegetasi mangove untuk meredam angin, gelombang angin Timur.

Lihat juga...