24 Tahun Kota Bekasi, Budaya dan Pariwisata Belum Digarap Maksimal

Editor: Koko Triarko

Maja Yusirwan, Budayawan, Penulis Film, Dosen dan Pengawas di Kota Bekasi, memberi kritikan bidang budaya bersamaan 24 tahun Kota Bekasi, kepada Cendana News, Minggu (7/3/2021). –Foto: M Amin

BEKASI –  Menginjak usia 24 tahun pada 10 Maret 2021, Kota Bekasi makin matang. Pembangunan infrastruktur di seantero wilayah kota ini boleh dibilang sangat baik. Menggeliat bak gadis belia yang terus bersolek mempercantik diri supaya tampil mempesona, charming, cute, slim and beauty. Atau kalau boleh kita pinjam standard quality miss universe, beauty, brain and behavior.

Bekasi sudah menuju ke arah yang tepat dan benar. Namun, seberapa besar capaian tersebut, ini yang harus terus direncanakan secara matang dan berkesinambungan.

Diperolehnya berbagai predikat serta sertifikat dan penghargaan tingkat provinsi maupun nasional terkait kinerja, menunjukkan  pemerintah kota Bekasi sedang tune up dan bekerja secara optimal.

Namun sayang, ada satu menjadi sorotan adalah konsen di bidang pariwsata dan budaya. Konsentrasi pembangunan atau paling tidak lebih melirik sektor pariwisata dan kebudayaan yang belum terurus secara maksimal.

“Ini bukan salah dinas pariwisata dan kebudayaan, bukan pula kesalahan personal, melainkan ketidaksimpatikan pemerintah kota Bekasi pada bidang yang satu ini,” ungkap Maja Yusirwan, budayawan, penulis naskah film, dosen dan pengawas di Kota Bekasi, kepada Cendana News, Minggu (7/3/2021).

Dikatakan, bahwa data yang tersaji dalam RPJMD 2018 – 2023 yang dapat kita cermati, bahwa sektor pariwisata dan kebudayaan masih terbilang kecil. Dari segi pendapatan asli daerah (PAD), hanya bertumbuh 0,02%, berbanding lurus dengan ketersediaan tempat, layanan serta obyek dan destinasi tujuan wisatawa.

Hal tersebut, imbuh Ki Maja, menjadi ‘PR’ besar bagi pemerintah kota Bekasi untuk menggenjot konsentrasi pembangunan atau paling tidak melirik lebih bagi sektor pariwisata dan kebudayaan yang belum terurus secara maksimal.

Untuk kawasan cagar budaya, dan baru 8 tempat yang dilestarikan (data 2017), merupakan sebuah capaian yang sangat minim. Dengan jumlah even budaya per tahun hanya berkisar 16 even kegiatan menghasilkan kunjungan wisatawan hanya mencapai 852.353 wisatawan pada 2017, sementara diketahui jumlah penduduk kota Bekasi saja hampir mencapai 3 juta jiwa. Artinya, kunjungan wisatawan lokal sangat kecil hanya sekitar 27 persen, apalagi wisatawan asing.

“Kita semua maklum, kota Bekasi memang tidak memiliki kawasan wisata alam seperti daerah-daerah lainnya, kota Bekasi hanya mengandalkan urban tourism, kawasan pemukiman yang meliputi sektor jasa dan industri,” tukasnya.

Maka, kawasan wisata yang dapat disuguhkan hanya meliputi layanan jasa, kuliner, penginapan, belanja, sementara tempat wisata alam yang ada seperti Curug Parigi, Hutan Bambu, Situ Rawa Gede dan beberapa lainnya belum terkelola maksimal, bahkan lebih terkesan tradisional dan apa adanya.

Barangkali, faktor inilah yang membuat keengganan para wisatawan untuk berlama-lama berwisata di Bekasi dengan kisaran stay paling lama 1 hingga 2 hari saja.

Melihat kenyataan tersebut, Ki Maja mengkritisi dan memberikan beberapa masukan, bisa dianggap solusi dan terobosan untuk menggenjot pendapatan dari sektor pariwisata dan kebudayaan.

Menurutnya, beberapa hal penting yang perlu disegerakan adalah pembenahan sumber daya manusia, bagaimana pun SDM menjadi bagian kunci yang mampu mengelola semuanya.

“Keterbatasan SDM yang cakap dan menguasai pariwisata dan kebudayaan Kota Bekasi sangat sedikit dan perlu pelatihan, pembinaan dan rekrutmen,” paparnya.

Begitu pun pembiayaan yang relatif minim dikucurkan pada sektor pariwisata dan kebudayaan, tentu sangat sulit untuk membiayai banyaknya cagar budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan.

Ke tiga, pemerintah kota Bekasi harus memiliki sense of belonging dan political will yang lebih berpihak kepada pemajuan kebudayaan daerah sesuai Undang Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah, jangan melulu pada perbaikan infrastruktur.

“Infrastruktur penting, namun pembangunan pendidikan, kesenian, kebudayaan, kesehatan akan memicu tumbuhnya perdaban, bukan lagi menjadi menara gading yang kering dari nilai dan norma serta moral masyarakatnya,” jelasnya.

Ke empat, Pemkot Bekasi diminta membuat tourism road maps, peta pariwisata dan budaya dalam bentuk website, flyer, pamlet, booklets, atau pun dalam medsos lainnya. Sebagaimana diketahui, kota Bekasi memiliki sangat banyak destinasi

“Jika kita mau kategorikan sebagai berikut, wisata sejarah, wisata cagar budaya, wisata religi, wisata alam, wisata kuliner, wisata seni, wisata belanja, wisata alam, wisata edukasi dan lain sebagainya” tukas Ki Maja.

Semua masih terbuka lebar, ibarat gadis perawan yang belum disentuh. Kota Bekasi membutuhkan leading innovation dan passion opportunity.

Beberapa gagasan yang tengah direncanakan Dinasa Pariwisata dan Kebudayaan bersama para stakeholders, lembaga yang terafiliasi seperti PPKD, misalnya, pernah menggagas revitalisasi Gedung Papak sebagai Museum Kota Bekasi, Kampung Budaya Kranggan Kelurahan Jatirangga, revitaalisasi Curug Parigi dan lainnya perlu diprioritaskan.

Selain itu, tentu saja memberikan insentif bagi pelaku seni, seniman, budayawan, pengelola sanggar, serta penghargaan yang sepantasnya. Seni memang mahal, namun dengan seni semua menjadi indah.

“Harus sering konsolidasi, urun rembug atau FGD agar memiliki kesamaan visi dan misi. Mengelola seni dan budaya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri,” ucapnya, sembari menambahkan, data dalam RPJMD untuk sektor Pariwisata dan Kebudayaan kota Bekasi, sedikitnya memiliki 69 buah.

Lihat juga...