Ahli Gizi: Pilih Diet Tepat agar Tidak Defisiensi Nutrisi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Mengenali mekanisme diet yang sesuai dengan tubuh, sangat lah penting. Mengingat, mekanisme diet yang viral di masyarakat, sering kali memang menjanjikan hasil yang signifikan, dalam waktu singkat dan tanpa harus berolahraga. Tapi ternyata memiliki dampak negatif bagi tubuh.

Ahli Gizi Tony Arjuna, MND, PhD, AN, APD, menyatakan memilih makanan memang hak setiap orang. Tapi harus dipahami juga, apa dampak dari pemilihan makanan itu pada jangka panjang dan kualitas hidup.

“Pemilihan mekanisme diet juga begitu. Bukan hanya asal pengen dapat berat badan turun dalam waktu singkat dengan cara mudah. Tapi juga harus dipertimbangkan apakah diet tersebut bisa dilakukan dalam jangka waktu panjang dan apa dampaknya pada tubuh,” kata Tony dalam webinar diet kontroversial, Jumat (19/3/2021).

Ia menyatakan, sudah banyak bukti ilmiah yang menunjukkan, beberapa program diet malah menghasilkan defisiensi nutrisi pada tubuh dan bahkan, yang terburuk, sebenarnya tidak menimbulkan efek apa pun pada tubuh.

“Contohnya, yang sempat viral beberapa tahun lalu. Diet berdasarkan golongan darah. Tapi setelah dilakukan penelitian ilmiah secara intensif, tidak ada bukti bahwa golongan darah menentukan metabolisme seseorang. Semua golongan darah, secara umum, memiliki mekanisme metabolisme yang sama. Tidak ada, golongan darah A itu tidak membutuhkan aktivitas fisik atau golongan darah O lebih membutuhkan banyak serat dalam diet makanannya,” urainya.

Atau, Grapefruit Diet yang berbasis pada satu jenis makanan yang dipercaya mampu membakar lemak secara cepat.

“Kelihatan memang berat badan tubuh menurun. Tapi, akibat restriksi makanan ini, yang terjadi adalah defisiensi nutrisi,” ucap pria muda yang menjabat sebagai Ketua Prodi Dietician FK-KMK Universitas Gadjah Mada ini.

Tony menjelaskan dari berbagai diet yang sudah dilakukan dari berpuluh tahun lalu, ada tiga pola yang selalu berulang. Yaitu, memanipulasi komposisi makanan seperti diet Low Carb, memanipulasi waktu seperti intermittent diet dan restriksi jenis makanan seperti grapefruit diet.

“Tapi semuanya, sebenarnya hanya berbasis pada satu hal. Defisit kalori. Yang membedakannya, dari mana pengurangan kalori itu didapat dan apakah jalan menguranginya sehat atau tidak,” ucapnya.

Tony menegaskan bahwa tidak satu pun mekanisme diet yang sempurna jika membatasi tubuh dalam mendapatkan nutrisi.

“Setiap makanan memiliki nutrisi berbeda yang dibutuhkan tubuh, tak peduli berapa kecil komposisinya. Tapi, jika tak didapatkan tubuh dalam jangka waktu panjang, maka akan ada gangguan,” ujarnya tegas.

Sehingga, kalau mau melakukan diet dalam rangka menurunkan berat badan, maka berkonsultasi lah dengan tenaga ahli kompeten.

“Setiap orang membutuhkan hal yang berbeda. Karena setiap orang, walaupun mereka kembar itu pasti berbeda. Diet yang baik adalah diet yang menyesuaikan dengan kondisi tubuh dan keseharian orang tersebut. Begitu banyak variabel yang harus dipertimbangkan. Jangan berharap hasil instan. Karena kan naik berat badannya juga gak instan,” tandasnya.

Founder Livo Diet Center, Ineka Andi Tabita, RD, MPH, yang dihubungi terpisah, juga menegaskan bahwa tidak ada diet yang sempurna.

“Yang ada itu hanya diet yang cocok dilakukan dalam jangka panjang oleh seseorang. Diet yang dilakukan oleh satu orang, belum tentu cocok dilakukan oleh orang lainnya,” ujar ahli gizi yang memiliki dua anak ini.

Ia memaparkan bahwa dalam melakukan diet, yang harus dipastikan adalah tubuh tetap mendapatkan variasi sumber nutrisi dan whole food.

“Dietnya juga harus fleksibel, sesuai dengan situasi dan kondisi orang yang melakukannya. Asupannya juga harus seimbang dan dapat dilakukan dalam jangka panjang tanpa adanya gangguan pada tubuh,” ujarnya.

Kalau saat melakukan diet, lalu terjadi kram otot atau insomnia atau paling tidak muncul sakit kepala, ia menyatakan itu adalah sinyal dari tubuh bahwa ada gangguan pada tubuh.

“Pada diet low carb yang terlalu ekstrim, sering timbul keluhan sakit kepala. Yang oleh para penggagas low carb, sering dibilang sebagai hal yang tidak membahayakan. Padahal itu adalah sinyal dari tubuh, bahwa tubuh tidak memiliki karbohidrat untuk dibakar,” ujarnya lagi.

Pengaturan makanan itu tetap harus dibarengi dengan aktivitas fisik, paling tidak sekitar 150 menit per minggu.

“Jadi kalau ada mekanisme diet yang bilang tidak usah pakai aktivitas fisik, cukup hanya dengan mengatur makanan, artinya mekanisme diet itu tidak sesuai dengan kesehatan,” pungkasnya.

Lihat juga...