Alat Tangkap Ramah Lingkungan Jaga Ikan Air Tawar Berkelanjutan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Menjaga kelestarian ikan air tawar berkelanjutan, warga di Lampung menghindari penggunaan alat tangkap yang berbahaya dan tetap menerapkan cara-cara yang ramah lingkungan.

Daliman, warga Sumur Putri, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung menyebutkan, ada beberapa metode yang digunakan, seperti jala tebar, jaring, alat bubu dan pancing sistem tajur. Sistem tajur dilakukan dengan memasang umpan pada pancing lalu di “planjer” atau didiamkan sejak pagi. Puluhan pancing dengan umpan katak, usus ayam akan diangkat saat sore.

“Alat tangkap ikan ramah lingkungan jenis pancing, jaring masih terjaga karena telah ada larangan. Penggunaan racun ikan jenis Tiodan, Potas dan penyetruman dilarang, karena akan berdampak pada kematian bibit ikan ukuran kecil, sehingga kelestarian ikan air tawar yang hidup secara alami bisa terancam,” terang Daliman saat ditemui Cendana News, Rabu (3/3/2021).

Ikan air tawar yang kerap ditangkap cukup beragam. di antaranya nila, betok, wader, lele dan gabus kerap diperolehnya. Selain itu, ikan dipilah berukuran sedang dan besar untuk dikonsumsi dan melepaskan kembali ikan ukuran kecil.

Kearifan lokal yang menjadi budaya masyarakat setempat juga masih terjaga, seperti meminta lauk kepada empunya sungai. Warga yang tinggal dekat aliran sungai masih meyakini legenda Sumur Putri di dekat sungai Akar.

Selain Daliman pola tangkap ikan tradisional dilakukan pemuda setempat. Memakai pancing dengan jorang dan poper berumpan cacing, pelet buatan ikan air tawar bisa diperoleh.

Roby, salah satu pemuda setempat mengaku aktivitas memancing tetap diperbolehkan. Namun kegiatan penyetruman, memakai obat kimia dan aktivitas membuang sampah dilarang.

“Kami menggunakan tekhnik pancing joran karena hasilnya lumayan untuk lauk dan ikan ukuran besar saja yang diambil,” cetusnya.

Alat tangkap ramah lingkungan jenis bubu kayu dimanfaatkan Sukirman, warga Palas, Kecamatan Palas, Lampung Selatan untuk menangkap ikan di sungai Way Pisang, Rabu (2/3/2021). Foto: Henk Widi

Selain di Bandar Lampung, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dipertahankan warga Lampung Selatan. Sukirman, warga Desa Palas, Kecamatan Palas mengaku menyediakan puluhan bubu bambu dengan tekhnik anyaman dan dibentuk menyerupai rongga. Bagian depan dibuka dengan perangkap pada bagian tengah sementara bagian ujung terbuka.

“Prinsip kerjanya bubu dipasang pada aliran air, ikan air tawar bisa masuk tapi tidak bisa keluar dan masih tetap hidup,” bebernya.

Puluhan bubu akan dipasang dekat aliran sungai Way Pisang, sungai Way Sekampung. Hasil ikan nila, wader, sepat dan lele akan digunakan sebagai bahan pembuatan ikan asin.

Lihat juga...