AMAN Nusa Bunga Dorong Masyarakat Adat Tanam Pohon Lokal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

ENDE — Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga yang meliputi wilayah Pulau Flores dan Lembata yang terdiri atas 9 kabupten terus mendorong masyarakat adat menanam pohon.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga yang meliputi wilayah Pulau Flores dan Lembata, Provinsi NTT, Philipus Kami saat ditemui di Kota Ende, Sabtu (16/3/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kita terus mendorong masyarakat adat untuk menanam pohon dan menjaga hutan adat di wilayah komunitas adat masing-masing,” sebut Ketua AMAN Nusa Bunga, NTT, Philipus Kami saat dihubungi, Rabu (31/3/2021).

Lipus sapaannya mengatakan, kayu-kayu lokal yang selama ini ditanam masyarakat adat terus digalakkan agar hutan tetap lestari dan fungsi kawasan hutan tetap terjaga.

Menurutnya, menanam kayu-kayu lokal sangat penting terutama yang dipergunakan untuk pembangunan rumah adat, sehingga masyarakat tidak kesulitan mendapatkannya.

“Kita dorong menanam kayu-kayu lokal sebanyaknya, terutama untuk kepentingan pembangunan rumah adat agar bisa dipergunakan nantinya,” ungkapnya.

Lipus menyarankan, sebaiknya penanaman kayu untuk kepentingan pembangunan rumah adat tidak di dalam kawasan hutan lindung maupun hutan produksi, sehingga bisa ditebang.

Ia mengakui, selama ini, masyarakat adat selalu kesulitan menebang kayu untuk pembangunan rumah adat, sebab lokasinya berada di dalam kawasan hutan lindung, sehingga sering terjadi konflik dengan pemerintah.

“Banyak hutan adat yang telah beralih fungsi sehingga harus dikembalikan lagi statusnya. Kita sedang perjuangkan agar ada hutan adat kembali, terutama di wilayah yang merupakan lokasi tambang,” ucapnya.

Lipus menambahkan,AMAN Nusa Bunga terus mendorong agar masyarakat adat mengembangkan lagi kearifan berbasis lingkungan,menjaga keseimbangan lingkungan supaya bisa meminimalisir pemanasan global.

Dia mengaku sedih dengan banyaknya tanaman pangan lokal yang hilang karena petani tidak menanamnya kembali di ladang atau kebun-kebun petani yang sejak nenek moyang selalu ditanam.

“Banyak benih-benih lokal yang mulai hilang karena petani sekarang lebih memilih menanam benih-benih padi dan jagung bantuan pemerintah. Kita coba kembalikan lagi benih-benih lokal tersebut,” terangnya.

Sementara itu Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, Benediktus Herry Siswadi menyebutkan, masih ada masyarakat adat di Kabupaten Sikka yang merusak hutan.

Menurut Herry, masyarakat adat yang berbatasan dengan hutan lindung mengklaim tanah ulayatnya yang masuk di dalam kawasan hutan lindung yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Masih ada masyarakat adat di beberapa daerah yang menebang kayu di dalam kawasan hutan lindung untuk kepentingan pribadi. Mereka juga membuka ladang di dalam kawasan hutan lindung meskipun sudah diberikan status Hutan Kemasyarakatan (HKm),” sebutnya.

Lihat juga...