Awug Beras, Lezatnya Kudapan Khas Sunda

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Disamping populer dengan keindahan alam dan keramahan warganya, bumi Pasundan juga terkenal dengan kekayaan aneka kuliner yang nikmat dan menggugah selera.

Salah satu jenis kuliner khas bumi Pasundan yang wajib dicoba ketika berada di sana adalah awug beras. Kudapan manis berbentuk tumpeng yang terbuat dari tepung beras, gula merah, kelapa, dan aroma daun pandan ini dijamin bisa bikin lidah jadi ketagihan.

Tidak sulit menemukan awug beras, terutama jika anda sedang berada di wilayah Bandung. Hampir di setiap pusat keramaian, seperti pasar selalu ada penjual awug beras.

Kang Shoulung, salah seorang pedagang awug beras di Pasar Tonggeng (Dadakan) Babakan Mantri menyebut, kudapan awug beras sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Resep awug pun diwariskan turun temurun di kalangan masyarakat Sunda hingga saat ini.

Kang Shoulung, pedagang awug beras sedang melayani pembeli di Pasar Dadakan (Tonggeng) Babakan Mantri, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/3/2021). Foto: Amar Faizal Haidar

“Saya mulai kenal awug sejak kecil. Waktu itu nenek saya yang suka bikin. Karena rasanya enak, jadi saya belajar bikin juga dan sampai sekarang jadi jualan awug,” kata Kang Shoulung, Sabtu (27/3/2021) di Kabupaten Bandung.

Kang Shoulung juga mengatakan, sejak awal berjualan awug di tahun 1996, sampai saat ini penikmat awug beras tidak pernah berkurang, bahkan selalu bertambah, tidak hanya disukai oleh orang Sunda, tapi masyarakat Indonesia secara umum, hingga turis mancanegara.

“Alhamdulillah setiap jualan awug selalu habis. Jualan di pasar-pasar habis. Awug juga tidak hanya disukai orang dewasa, anak-anak sampai orang tua pun suka makan awug,” tukasnya.

Sementara itu, Wina, salah seorang penikmat awug asal Desa Pinggirsari mengaku, kue awug memiliki rasa yang hampir sama dengan kue putu, namun yang berbeda ialah cetakan dan tekstur yang dihasilkan setelah dikukus.

“Tekstur awug terasa lebih lembut dibandingkan dengan kue putu yang memiliki terkstur lebih kasar,” katanya.

Lebih lanjut, Wina mengatakan, awug akan lebih nikmat bila dimakan saat masih hangat dan ditemani dengan teh manis di pagi hari.

“Kalau menurut saya, awug lebih cocoknya jadi menu sarapan. Tidak terlalu berat, tapi cukup mengenyangkanlah. Kebetulan di sini yang jualan awug selalu pagi, harganya pun murah, Rp5.000 sudah bisa dapat banyak,” ucapnya.

Lihat juga...