Banjir di Semarang Harus Diatasi dengan Pendekatan DAS

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Ahli peneliti utama Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS), Prof Ris Irfan Pramono memaparkan, ada empat yang menjadi penyebab banjir di Kota Semarang.

hli peneliti utama BPPTPDAS, Prof Ris Irfan Pramono memaparkan materi, dalam webinar BalitekDAS Seri CerDAS ke-1 ‘Menguak Tabir Banjir Semarang : Tinjauan Pengelolaan DAS’, yang digelar secara daring di Semarang, Rabu (3/3/2021). Foto Arixc Ardana

“Secara umum, banjir di Kota Semarang terjadi karena hujan dengan intensitas tinggi, daerah resapan air berkurang, penurunan muka tanah dan sistem drainase yang tidak memadai,” terangnya, dalam webinar BalitekDAS Seri CerDAS ke-1 ‘Menguak Tabir Banjir Semarang : Tinjauan Pengelolaan DAS’, yang digelar secara daring di Semarang, Rabu (3/3/2021).

Kondisi tersebut juga diperparah dengan semakin menyempitnya Daerah Aliran Sungai (DAS), karena digunakan untuk pemukiman. “Ada beberapa DAS yang berhilir di Kota Semarang. Salah satunya DAS Garang,” terangnya.

Dalam Perda Pemprov Jateng No 6/2010 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) Jateng tahun 2009-2029, DAS Garang menjadi salah satu wilayah yang dilindungi secara fungsi dan daya dukungnya. Konsekuensinya, wilayah tersebut harus dilakukan tindakan konservasi tanah dan air sesuai peruntukannya.

“Namun kalau lihat datanya, penambahan luas pemukiman di wilayah DAS Garang, terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan data pada 1994, luas pemukiman mencapai 2.000 hektar, lalu pada tahun 2008 meningkat menjadi 5 ribu hingga pada 2018 menjadi nyaris 8 ribu hektar. Akibatnya, kemampuan tanah untuk menyerap air menjadi sangat berkurang,” tegasnya.

Kondisi tersebut semakin parah, dengan empat penyebab umum banjir di Kota Semarang. “Curah hujan tinggi, permukaan tanah turun sehingga lebih rendah dari laut, akibatnya air tidak bisa mengalir ke laut, dan banjir pun terjadi,” paparnya.

Pihaknya pun mendorong agar ada koordinasi lintas pemda, dalam penanganan DAS Garang sebab wilayah tersebut mencakup Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Kendal. “Hal ini memerlukan koordinasi antar wilayah, dalam mengatasi persoalan tersebut,” tegasnya.

Dirinya pun menilai, banjir di Kota Semarang harus diatasi dengan pendekatan DAS. Perubahan penutupan lahan, menyebabkan pasokan air banjir untuk Kota Semarang semakin besar.

“Pendekatan untuk mengurangi banjir, harus berubah dari mengalirkan air menjadi meresapkan air. Ini penting, karena meresapkan air ke dalam tanah tidak hanya untuk mengatasi banjir, namun juga untuk mengatasi kekeringan, penurunan tanah dan intrusi air laut,” tegasnya.

Sementara, Walikota Semarang Hendrar Prihadi dalam webinar yang sama, menjelaskan topografi Kota Semarang yang unik menjadikan wilayah tersebut rawan banjir dan rob. Jika pada saat hujan, air tidak dikelola dengan baik, maka air akan menuju muara. Sementara, disaat bersamaan, air laut tengah pasang, akibatnya banjir rob pun tidak terhindarkan.

“Topografi Semarang dikenal dengan Semarang atas, berupa wilayah perbukitan dan Semarang bawah dengan pesisir laut. Jika air hujan ini tidak dikelola dengan baik, termasuk menyediakan lahan konservasi, maka potensi banjir dan rob di wilayah Semarang relatif tinggi, ” paparnya.

Dijelaskan, Pemkot Semaran dibantu Pemerintah Pusat, Provinsi dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, pun berupaya mengatasi persoalan banjir dan rob di wilayah tersebut.

Salah satunya, dengan merancang empat sistem drainase meliputi drainase Mangkang yang meliputi Kali Mangkang dan Kali Beringin, drainase Semarang Barat meliputi Kali Tugurejo, Silandak, Siangker dan wilayah Bandara Ahmad Yani.

Selanjutnya drainase Semarang Tengah, meliputi wilayah Simpanglima, Banjir Kanal Barat (BKB), wilayah Bulu, Kali Asin, Kali Baru, Banger, Kali Semarang dan Kali Bandarharjo.

Sedangkan sistem drainase Semarang Timur meliputi Banjir Kanal Timur (BKT), Kali Tenggang, Sringin, Babon dan Kali Pedurungan.

“Kita juga berupaya membangun folder di sejumlah titik, termasuk di Pedurungan, Muktiharjo Kidul, ini semua sebagai upaya untuk mengelola air hujan agar tidak melimpah ke pemukiman dan jalan,” terangnya.

Hendi, panggilan akrabnya, mengaku banjir bandang yang melanda Kota Semarang, dua kali dalam sebulan yakni pada 6-7 Februari 2021 dan 23 Februari 2021 lalu, seakan menghilangkan berbagai upaya yang dilakukan dalam penanganan banjir di wilayah tersebut.

“Semarang pada tanggal 6 Februari 2021, hampir pada semua dataran atau Semarang bawah banjir, setidaknya 29 titik banjir, dan 27 titik bagian Semarang atas yang longsor. Di saat, kita berkoordinasi terkait penanganan, ternyata kena banjir lagi tanggal 23 Februari 2021,” ungkapnya.

Pihaknya memastikan akan meningkatkan volume, dalam menampung atau memanen air hujan, hingga penyiapan sumur resapan dan biopori. “Saat ini sudah ada di Kecamatan Gunungpati, sebagai wilayah konservasi, kita lakukan panen hujan. Termasuk perumahan, kita wajibkan membuat biopori dan sumur resapan,” tandasnya.

Di satu sisi, dirinya tidak menampik jika wilayah Semarang bagian utara, juga mengalami penurunan tanah, setidaknya 10-20 centimeter per tahun. “Itu sebabnya, masyarakat yang di wilayah tersebut, banyak rumahnya yang ‘tenggelam’, lebih rendah dari jalan. Mau masuk rumah pun harus menunduk,” pungkasnya.

Lihat juga...