Banyak Potensi Sumber Daya Genetik untuk Obat Herbal Belum Tergali

JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengemukakan, masih banyak potensi yang dapat digali dari pemanfaatan sumber daya genetik Indonesia untuk menjadi obat herbal terstandar (OHT) atau fitofarmaka.

“Saat ini jumlah OHT dan fitofarmaka yang terdapat di Badan POM masih sangat belum meningkat secara tajam,” kata Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Reri Indriani, dalam diskusi daring bertema “Perlindungan Sumber Daya Genetik Indonesia” yang dipantau di Jakarta, Rabu (24/3/2021).

Menurut data BPOM saat ini telah terdaftar 98 produk OHT dan 36 fitofarmaka, atau obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah.

Dalam diskusi yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu, Reri mengatakan adanya peningkatan permintaan akan obat bahan alami seiring dengan makin maraknya tren hidup berkelanjutan.

Obat-obat berbahan alam itu dapat mengatasi beban ganda dalam pembangunan kesehatan akibat munculnya penyakit, baik menular maupun tidak menular, karena memiliki sifat kuratif rehabilitatif serta promotif dan preventif.

Terkait tantangan, menurut Reri Indriani, masih banyak tanaman atau bahan alam empiris yang tidak terdokumentasi dengan baik, adanya pustaka empiris tentang obat alam dari dokumen kuno yang belum diterjemahkan dan perlunya pembuktian empiris atau penelitian lebih lanjut terkait bahan alam baru yang diketahui oleh masyarakat sebelumnya.

Hal serupa dikatakan oleh Pelaksana Tugas Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yan Rianto. Dia menegaskan, sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memiliki sumber daya genetik yang sangat beragam, mulai dari tanaman, hewan sampai mikroorganisme.

Telah tercatat saat ini terdapat 30.000 spesies dengan sekitar 800 yang sudah dimanfaatkan sebagai herbal seperti jamu. Namun, ia menyayangkan masih belum banyak dari spesies tersebut yang dikembangkan lebih lanjut.

“Jadi kita sangat minim sekali pemanfaatan sumber daya hayati, yang sebetulnya banyak terdapat di Indonesia,” demikian Yan Rianto. (Ant)

Lihat juga...