Belajar Sistem Irigasi Tetes, Disbunnak Flotim Berkunjung ke Maumere

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Dinas Perkebunan dan Peternakan  (Disbunnak) Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan kunjungan ke kebun irigasi tetes milik Yance Maring, petani milenial di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.

Kunjungan dilakukan untuk mengetahui sistem pertanian irigasi tetes supaya bisa  melakukan pemberdayaan kebun-kebun dinas milik pemerintah yang kesulitan air agar menggunakan sedikit air tapi hasilnya maksimal.

“Kita sudah mendengarnya dan mencarinya hingga datang ke kebun irigasi tetes di Maumere,” kata Sebastinus Sina Kleden, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Flotim, saat ditemui di Kelurahan Wailiti, Kota Maumere,  Sikka, Kamis (24/3/2021).

Sebastianus menyebutkan, pihaknya tertarik dengan pertanian sistem irigasi tetes yang dikembangkan seorang petani milenial di Kabupaten Sikka dengan menggunakan teknologi.

Ia mengatakan, sistem irigasi tetes ini akan diaplikasikan di kebun lada milik dinasnya yang terdapat di Dulipali, Kecamatan Wulanggitang serta di kebun-kebun dinas lainnya.

“Saya datang bersama tim untuk melihat langsung sistem irigasi tetes, semacam studi lapangan supaya bisa diaplikasikan di Flores Timur. Nanti kami akan kembangkan di kebun lada kami,” ucapnya.

Kepala Disbunnak Flotim, Sebastianus Sina Kleden saat ditemui di kebun irigasi tetes, Kamis (25/3/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Sebastianus mengaku tertarik dengan sistem irigasi tetes untuk diaplikasikan di kebun dinas seluas 3 hektare dimana masing-masing satu hektare untuk tanaman lada, cengkih dan pala.

Pihaknya pun akan mengembangkan dengan tanaman hortikultura di lahan tersebut dan rencananya akan segera diaplikasikan bila dananya sudah tersedia.

Ia mengaku saat kunjungan, akhirnya bisa memahami ternyata sistem ini hanya mengggunakan dana yang tidak terlalu besar sementara lahan tidur di Flores Timur sangat luas dan berpotensi digarap.

“Yang paling berkesan saat melakukan kunjungan Yance sangat terbuka dan banyak berbagi ilmu dan sharing tentang dunia pertanian. Yance juga tidak memiliki lahan tapi mengontraknya sehingga sangat memotivasi kami,” ucapnya.

Sebastianus mengaku sangat senang sebab apa yang dicari bisa didapatkan sehingga paling lama tahun 2022, sistim irigasi tetes sudah bisa diaplikasikan di Kabupaten Flores Timur.

Dinasnya pun berencana menitipkan staf  untuk belajar sistem irigasi tetes ini, sebab setiap dinas sektor pertanian mempunyai kebun dinas dengan luas dan kepentingan berbeda sehingga bisa dipergunakan nantinya.

Ia menerangkan,akan mengembangkan sebuah kebun contoh menggunakan sistem irigasi tetes hingga berhasil agar bisa dijadikan contoh dan tempat belajar bagi para petani.

“Kesulitan yang kami rasakan selama ini hanya soal air.Lada sudah 3 tahun berturut turut ditanam tapi saat musim kering mati kekeringan sehingga kita mencari solusinya,” ucapnya.

Sebastianus berharap kerja sama dengan Yance, petani irigasi tetes yang dilakukan dinasnya akan menjadi pintu masuk untuk dikembangkan di wilayah lainnya di Flores Timur.

Ia melihat banyak pegiat pertanian yang mulai tumbuh tapi masalahnya terletak pada pengaturan air untuk penyiraman tanaman pertanian dan perkebunan.

“Menurut saya biaya sistem irigasi tetes sangat terjangkau, masuk akal dan rasional. Tapi harus ditunjukkan keuangan yang sudah digelontorkan tidak percuma dan programnya berhasil,” ucapnya.

Petani sistem irigasi tetes, Yance Maring mengatakan, untuk Provinsi NTT dari pemerintah daerah baru Kabupaten Flores Timur saja yang sudah datang dan mengajak kerja sama.

Yance mengatakan untuk pemerintah memang responsnya agak lama sehingga dirinya bersyukur satu-satunya pemeritah daerah yang telah datang dan mengajak kerja sama dalam pengembangan sistem pertanian irigasi tetes.

“Semoga kerja sama dengan Pemda Flores Timur membuat Pemda yang lainnya di NTT bisa melihatnya. Pemda lain hanya sebatas pembicaraan lepas sementara dari Flores Timur sudah ada pembicaraan ke arah kerja sama,” ujarnya.

Yance menjelaskan, justru dari luar NTT tawaran kerja sama sangat besar sebab petani di luar NTT orientasinya bisnis tapi memang semuanya dari pihak swasta.

Dia paparkan, sedang dalam pengerjaan lahan sistim irigasi tetes menggunakan teknologi Smart Farming di Kabupaten Sikka milik  Kopdit Pintu Air di lahan seluas 5 hektare.

Dirinya pun sedang lakukan instalasi sisem irigasi tetes di Labuan Bajo seluas 2 hektare, Pulau Sumba bulan April sampai Mei 10 hektare, Alor 3 hektare, Makasar 3 sampai 4 hektare serta Kabupaten Kupang 200 hektare.

“Untuk Manado seluas 45 hektare, Sumatera 9 hektare serta dari Presiden Foundation untuk pengembangan sistim irigasi tetes di Yogyakarta dan Bekasi,” terangnya.

Yance mengakui menyediakan layanan jasa konsultasi,teknis dan peralatan sebab pihaknya bukan sekadar bisnis murni dan jual barang tapi juga melakukan pemberdayaan.

Lihat juga...