Belum Ada Mesin, RS TC Hillers Maumere Tumpuk Limbah Medis

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan agar limbah medis termasuk limbah medis Covid-19 selain diolah menggunakan mesin insinerator, juga bisa menggunakan mesin autoclave.

Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, dr. Clara Yosephine Francis, MPH saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Rabu (17/3/2021). Foto : Ebed de Rosary

Ketiadaan mesin autoclave di RS TC Hillers Maumere mengakibatkan limbah medis dari bahan plastik hanya ditumpuk di sebuah tempat penampungan sambil menunggu kedatangan mesin tersebut.

“Mesin autoclave untuk RS TC Hillers Maumere memang belum ada sehingga limbah medis termasuk limbah medis Covid-19 ditampung dahulu,” kata Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, dr. Clara Yosephine Francis, MPH saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Rabu (17/3/2021).

Clara menjelaskan, memang sudah ada permohonan dan pemerintah pusat sudah menganggarkannya dan sedang ditunggu pembeliannya.

Dirinya mengakui, pembelian mesin tersebut rencananya menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2021.

“Mudah-mudahan mesinnya segera tiba agar limbah medis berbahan plastik bisa secepatnya diolah agar tidak semakin menumpuk,” harapnya.

Sementara itu, staf Instalasi Staf Instalasi Sanitasi RS TC Hillers Maumere, Fransiskus Lepa Palle saat ditanyai membenarkan limbah medis Covid-19 berbahan plastik sementara ditampung dahulu.

Chiko sapaannya menjelaskan, untuk tahun anggaran 2021 usulan dari RS TC Hillers Maumere untuk pengadaan mesin autoclave sudah disetujui dan sedang dalam proses pengadaan.

“Nanti kalau mesinnya sudah ada maka limbah medis berbahan plastik bisa kita olah. Sementara waktu kita tampung dahulu sebab jumlahnya tergolong banyak sekali,” ungkapnya.

Chiko mengatakan, memang di aturan limbah medis berbahan plastik seperti botol infus dan lainnya bisa dicacah secara manual baru dibuang namun pihaknya takut limbah tersebut diambil masyarakat.

Selain itu sebut dia, jumlah limbah medis berbahan plastik yang banyak akan menyulitkan para pekerja untuk mencacahnya karena butuh waktu lama dan tenaga kerja yang banyak.

“Kalau harus dicacah secara manual tentu membutuhkan tenaga kerja dan memakan waktu. Nanti juga setelah mesinnya tiba maka staf mereka harus dapat pelatihan cara mengoperasikan dan merawatnya terlebih dahulu,” ujarnya.

Chiko menambahkan, pihaknya membutuhkan mesin autoclave dengan kapasitas besar minimal 100 kilogram sekali beroperasi sehingga dalam sehari bisa ratusan kilogram limbah medis yang diolah.

Untuk diketahui, autoclave adalah alat yang digunakan untuk mensterilkan peralatan dan perlengkapan dengan menundukkan material untuk uap tekanan tinggi.

Untuk pengolahan limbah atau sampah medis, autoclave biasanya dilengkapi dengan alat pencacah.

Lihat juga...