Berkebun di Rumah Manfaatkan Limbah Rumah Tangga

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Berkebun di rumah sendiri, dalam arti kebun dengan kebutuhan pangan, selain mengambil bagian dalam menjaga lingkungan juga menghemat uang.

Pegiat lingkungan sekaligus Founder Cleanomic, Denia Isetianti Permata, menyatakan bahwa berkebun dengan kompos yang dibuat dari sisa bahan organik di rumah bisa berperan penting dalam menjaga lingkungan.

“Pertama, komposnya kita bikin sendiri dari sisa makanan di rumah. Lalu, tempat tanamannya juga kita bikin dari bekas kontainer atau kemasan alat rumah tangga. Jadi, selain sehat, menjaga lingkungan dan hemat uang juga,” kata Denia, saat dihubungi, Rabu (17/3/2021).

Semaian tanaman sebelum dipindahkan ke pot yang lebih besar milik Denia, Rabu (17/3/2021). –Foto: Ranny Supusepa

Mengkompos di rumah, menurut Denia sangat mudah dilakukan. Sisa makanan dipotong kecil-kecil, supaya proses kompos bisa lebih cepat. Setelah dipotong kecil-kecil, masukkan ke transit boks yang sudah berisi sekam bakar yang disediakan di dapur.

“Kenapa pakai transit boks? Supaya tidak bolak balik ke composer box. Kalau sudah penuh transit boksnya, baru dimasukkan ke composer box,” ujarnya.

Saat kompos sudah tersedia, maka bibitnya bisa berasal dari sisa sayuran yang ada di rumah, misalnya wortel atau pokchoy atau membeli bibit dari toko online, karena bibit kering biasanya bertumbuh lebih lama dibandingkan bekas sayuran rumah tangga.

“Dengan menanam sendiri lalu melihatnya tumbuh setiap hari, akan mengajarkan kepada kita untuk menghargai setiap makanan. Ini bagus untuk mengajarkan, terutama pada anak-anak agar selalu menghabiskan makanannya. Kan tidak mudah juga tanaman itu untuk tumbuh,” ujarnya lagi.

Ia menjelaskan lagi, kompos yang sudah jadi, dicampur dengan tanah dan sabut kelapa, lalu diaduk hingga rata. “Kalau sudah rata, masukkan ke kontainer atau wadah plastik yang sudah dibolongi bagian bawahnya. Lalu, letakkan bibit tanaman atau jika beli bibit, taburkan di atasnya dan tutup dengan tanah secara tipis. Ini untuk menghindari bibit diganggu oleh binatang dan agar cepat menyatu dengan tanah,” paparnya.

Kemudian, katanya, letakkan tanaman di tempat yang terpapar sinar Matahari sepanjang hari selama proses semai. “Kalau saya, diletakkan di lokasi tempat mencuci tangan. Karena ada jendela yang menjamin akses sinar Matahari sepanjang hari dan saat mencuci tangan, bisa langsung menyiramnya,” paparnya, lebih lanjut.

Kalau sudah mulai tumbuh, tanaman bisa dipindahkan ke kontainer atau wadah yang lebih besar, agar tanaman bisa bertumbuh dengan baik.

“Intinya, konsisten dalam melakukannya. Baik dalam mengkompos maupun berupaya sesedikit mungkin menghasilkan sampah rumah tangga. Karena sampah sudah banyak, penting bagi kita semua untuk ambil bagian dalam mengurangi jumlah sampah yang terkirim ke lokasi TPA,” pungkasnya.

Lihat juga...