BI Dorong UMKM Jateng Gunakan QRIS

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) Bank Indonesia Jawa Tengah, terus mendorong penggunaan QR Code Indonesian Standard (QRIS), kepada masyarakat. Termasuk pada sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Jateng.

“Target kita dari 1 juta pelaku usaha UMKM yang telah menyediakan QRIS sebagai metode pembayarannya, saat ini baru ada sekitar 500 ribu pelaku usaha. Untuk itu, kita akan terus dorong pelaku usaha untuk memanfaatkan QRIS sebagai metode pembayarannya,” papar Deputy Kepala Perwakilan Implementasi Grup Sistem Pembayaran KPw BI Jateng, Andry Prasmuko, saat dihubungi di Semarang, Kamis (18/3/2021).

Dari angka tersebut, tercatat ada 21,7 persen pelaku usaha mikro kecil, serta usaha menengah sebanyak 7,5 persen.

“Melihat proporsi pelaku usaha di Jateng yang telah memanfaatkan QRIS ini, kita melihat kesadaran masyarakat dan pelaku usaha untuk penggunaan transaksi pembayaran nontunai sudah relatif tinggi. Meski demikian, kita terus dorong agar angka ini terus meningkat,” tandasnya.

Deputy Kepala Perwakilan Implementasi Grup Sistem Pembayaran KPw BI Jateng, Andry Prasmuko, saat dihubungi di Semarang, Kamis (18/3/2021). –Foto: Arixc Ardana

Tingginya penggunaan transaksi nontunai melalui QRIS, juga berbanding lurus dengan peningkatan nilai transaksi. Tercatat data per Januari 2021, jumlah transaksi nontunai yang dilakukan di wilayah Kota Semarang mencapai Rp7 miliar, Kota Surakarta sebesar Rp3 miliar, dan Kabupaten Magelang Rp2,7 miliar.

“Ini menjadi tiga wilayah, dengan nilai transaksi pembayaran nontunai tertinggi di Jateng,” lanjutnya.

Sementara untuk mengembangkan penggunaan QRIS, Bank Indonesia juga memberikan kemudahan pendaftaran kepada pelaku usaha yang ingin memakai QRIS.

“Cukup lewat website Bank Indonesia sudah bisa diproses. Selain itu, kita juga lakukan sosialisasi di setiap kegiatan workshop dan kegiatan pameran pemerintah daerah, untuk selalu mendorong penggunaan QRIS,” tambahnya.

Tidak hanya itu, saat ini QRIS juga bisa menerima semua aplikasi pembayaran, sehingga pelaku usaha cukup memiliki satu akun QRIS.

“Kalau dulu, setiap aplikasi pembayaran harus ada barcodenya, sekarang tidak perlu lagi. Cukup menggunakan QRIS, semuanya bisa dipakai,” tandasnya.

Selain itu, dengan QRIS, pelaku usaha juga termasuk dapat menerima pembayaran dari bank atau nonbank. “Dengan menggunakan QRIS, pedagang juga tidak kesulitan dalam menyediakan uang kecil untuk kembalian. Serta menghilangkan potensi kerugian akibat penerimaan pembayaran menggunakan uang palsu,” tegas Andry.

Hal senada juga disampaikan Kepala KPw BI Jateng, Pribadi Santoso. Dijelaskan, dalam upaya implementasi QRIS serta membangun ekosistem perekonomian digital di Jateng, pihaknya terus menggelar kegiatan sosialisasi.

“Termasuk hari ini (Kamis-red), kita gelar rangkaian kegiatan road to Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia (FEKDI). Dalam acara ini, kita selenggarakan Semarak Edukasi Keuangan Digital (Srikandi) QRIS, hingga BI Bersinergi Majukan Daerah (Bisma). Tema yang diusung, yakni ‘Sinergi Majukan Daerah melalui Ekonomi Digital’,” terangnya.

Upaya tersebut untuk mendorong sosialisasi dan edukasi penggunaan QRIS dari sisi UMKM, pasar tradisional, penerimaan pemerintah daerah, donasi sosial, aparat penegak hukum hingga sektor pariwisata.

“Potensi implementasi QRIS di Jateng cukup tinggi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan merchant QRIS di Jateng, dengan raihan peringkat ke-4 di level nasional pada periode 2020. Selain itu, tingkat pertumbuhan QRIS Jateng pada 2020 lalu, juga mencapai 208 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Karenanya, besarnya potensi tersebut perlu didukung dengan pemahaman masyarakat akan benefit dari penggunaan QRIS dalam kehidupan sehari-hari,” tandas Pribadi.

Pihaknya pun beharap, dengan adanya perluasan implementasi QRIS di segala sektor, mampu membentuk embrio ekosistem perekonomian digital di Jateng.

Lihat juga...