Bisnis Kotoran Hewan di Bekasi, Hasilkan Rp5 Juta per Bulan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Meningkatnya pecinta tanaman hias di masa pandemi memberi dampak positif bagi bisnis kotoran hewan (kohe) sebagai pupuk hingga membuat mahasiswa asal Bekasi, Jawa Barat ini, mendulang rupiah.

Hal tersebut diakui Nur Hasan alias Acan mahasiswa asal Kampung Tanah Tinggi, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Saat ini, ia mengaku kewalahan melayani jumlah permintaan kohe di wilayah kota dan kabupaten Bekasi.

Tumpukan karung kotoran hewan yang telah difermentasi di gudang rumah Acan, siap kirim ke beberapa wilayah di Bekasi, Selasa (2/3/2021) – Foto: Muhammad Amin

Tingginya permintaan akan kohe dalam sebulan, Acan mengaku, saat ini bisa meraup keuntungan mencapai Rp5 jutaan per bulan. Laba tersebut resmi dari keuntungan yang didapatkan dari penjualan kohe.

Hal ini karena kian banyaknya orang mengisi waktu di rumah saja dengan budi daya tanaman hias dan lainnya. Pandemi Covid-19 bagi Acan memberi dampak positif penghasilannya.

“Alhamdulillah, sekarang permintaan kohe terus bertambah, terutama seperti di tukang kembang atau pun tempat lainnya yang budi daya aneka tanaman. Bisa dikatakan pandemi ini berkah bisnis kohe,” kata Acan.

Namun demikian Acan juga mengaku, saat ini karena  hujan turun cukup tinggi mempengaruhi produksi kohe. Diakuinya, sampai sekarang masih menggunakan alat manual seperti ayakan sebelum melakukan fermentasi.

“Dengan adanya curah hujan yang cukup tinggi sejak Februari lalu, apalagi di Kampung Tanah Tinggi, maka setiap hujan pasti banjir. Itu cukup mempengaruhi produksi kohe untuk jadi pupuk organik,” tukasnya.

Karena untuk memproses kohe jadi pupuk organik, harus difermentasi, kotoran hewan harus kering agar bisa diayak. Kondisi sekarang pengeringan cukup susah memerlukan waktu lama, sehingga sedikit menghambat produksi.

“Bahkan rata-rata kotoran hewan yang diambil di kandang dalam keadaan basah. Membutuhkan waktu pengeringan lagi. Terkadang sudah mulai kering hujan turun, terendam air,” ujar Acan.

Akibatnya, papar Acan, bahan baku berkurang sementara permintaan cukup tinggi. Hal itulah yang membuatnya kewalahan dalam memenuhi kebutuhan permintaan.

Saat ini, ia juga tengah mengembangkan ternak cacing di lahan kosong sekitar rumah. Cacing juga menjadi bahan baku untuk pembuatan pupuk organik seperti tanah.

“Beberapa waktu lalu, ada juga mahasiswa PKL dari kampus STAI Indonesia Jakarta, menanyakan pengelolaan pupuk organik dan budi daya cacing ke sini,” papar Acan.

Salah seorang langganan di wilayah Jatiasih, Ibu Lastri, mengaku, mengorder pupuk organik kohe pada Acan dengan alasan harganya terjangkau. Saat ini, peminat pupuk organik cukup banyak di wilayah Kota Bekasi.

“Saya beli sistem karungan untuk harga per karung ukuran 50 kilogram harganya Rp60 ribu. Sekali order beberapa karung dan seminggu paling sudah order lagi,” ujar Ibu Lastri, pembuka lapak tanaman hias di wilayah Jatiasih.

Lihat juga...