BPBD: Longsor di Cilawu Garut Masih Terjadi Selama Musim Hujan

GARUT — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyampaikan bahwa kawasan bencana tanah longsor di Desa Karyamekar, Kecamatan Cilawu, Garut, Jawa Barat, masih terjadi karena hujan sehingga warga tetap diminta waspada dan mengosongkan rumahnya.

“Kalau musim penghujan belum berakhir, masih (terjadi pergerakan longsor),” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Garut Tubagus Agus Sofyan di Garut, Jumat.

Ia menuturkan saat hujan turun seringkali memicu terjadinya pergerakan tanah yang akhirnya bisa menyebabkan longsoran tanah dan mengancam bahaya rumah warga di sekitarnya Desa Karyamekar, Kecamatan Cilawu.

Menurut dia hasil peninjauan di lapangan bahwa daerah tersebut memiliki potensi tinggi terjadinya bencana tanah longsor susulan.

“Iya masih berpotensi,” katanya.

Ia menyampaikan Pemkab Garut telah memberlakukan tanggap darurat dengan menyiapkan tempat pengungsian dan kebutuhan logistik untuk menanggulangi masyarakat yang terdampak maupun terancam bahaya longsor tersebut.

Namun akhirnya, kata dia, pemerintah daerah memutuskan untuk mengakhiri tanggap darurat dan seluruh warga mengungsi ke rumah saudara dan mengontrak rumah yang lebih nyaman.

“Untuk sementara bahwa pengungsi telah dipindahkan sebagian ke saudaranya dan ada juga yang menyewa,” katanya.

Ia menyampaikan saat ini sedang menunggu rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait lahan yang cocok dan aman dari ancaman bencana untuk merelokasi seluruh warga.

“Sudah habis tanggap daruratnya, lagi nunggu rekomendasi calon relokasi, jadi yang mana yang harus boleh untuk direlokasi,” katanya.

Bencana tanah longsor di Desa Karyamekar sudah terjadi sejak 2015, kemudian terus meluas dan terakhir longsoran cukup besar terjadi 12 Februari 2021 hingga akhirnya seluruh warga harus mengungsi.

Rumah warga yang terancam bahaya bencana tanah longsor itu berada di atas tebing, sementara tanah tebing terus terjadi pergerakan yang mengancam bahaya bagi masyarakat yang tinggal di atasnya.

Tercatat ada 73 rumah terdiri dari 88 kepala keluarga atau 303 jiwa yang saat ini memilih mengungsi untuk menghindari risiko dari bencana tersebut. [Ant]

Lihat juga...