BPOM Nyatakan Vaksin Covid-19 AstraZeneca Aman Digunakan

Editor: Koko Triarko

Dr. Dr. Lucia Rizka Andalusia, M.Pharm. Apt., juru bicara vaksinasi Covid-19 BPOM, pada konferensi pers secara virtual tentang vaksin Covid-19 AstraZeneca di Jakarta, diikuti Cendana News, Jumat (19/3/2021) sore. -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) sempat menangguhkan distribusi vaksin AstraZeneca di Indonesia, berkaitan dengan kasus pembekuan darah yang diduga terkait vaksin AstraZeneca ini. Namun setelah melakukan evaluasi dan uji klinik dengan para ahli secara keseluruhan, BPOM memutuskan vaksin AstraZeneca dapat didistribusikan dan digunakan dalam program vaksinasi.

“Kami telah lakukan uji klinik, vaksin AstraZeneca dua dosis interval 8-12 minggu total 23.745 subyek vaksin ini aman untuk digunakan,” ujar Dr. Dr. Lucia Rizka Andalusia, M.Pharm. Apt., juru bicara vaksinasi Covid-19 BPOM,  pada konferensi pers secara virtual tentang vaksin Covid-19 AstraZeneca di Jakarta yang diikuti Cendana News, Jumat (19/3/2021) sore.

Menurutnya, penggunaan vaksin AstraZeneca merangsang pembentukan antibodi pada orang dewasa dan lansia. Yakni, dengan teter antibodi untuk dewasa 32 kali dan lansia mencapai 21 kali.

Sementara untuk efikasi setelah pemantauan sekitar dua bulan, menunjukkan 62,1 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari standar WHO (World Health Organization).

Hasil ini menurutnya telah sesuai dengan ketentuan WHO minimal 50 persen. Sedangkan untuk mutu, BPOM telah mengaji berbagai dokumen hingga stabilitas antigen. Hasil seluruhnya memenuhi syarat, meskipun memang ada beberapa hal harus diperbarui terkait stabilitas data.

Lebih lanjut disampaikan, untuk efek samping vaksin ini umumnya ringan dan sedang. Sementara reaksi lokal adalah nyeri saat ditekan, panas dan pembengkakan, dan nyeri sendi.

Ada pun terkait kasus pembekuan darah pada lansia di Denmark usai disuntik vaksin AstraZeneca, kata dia, telah dibahas pada forum pertemuan khusus, baik di WHO maupun badan otoritas regulatori obat di Eropa-European Medicines Agency(EMA).

Pertemuan itu menunjukkan, bahwa tromboemboli merupakan kejadian medis yang sering dijumpai dan merupakan penyakit kardiovaskuler nomor 3 terbanyak berdasarkan data global.

“Tapi tidak ditemukan bukti peningkatan kasus ini setelah penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca,” ujarnya.

Dia juga menyebut,  EMA memiliki sistem pemantauan risiko pascapemasaran yang komprehensif, dan melihat kemungkinan terjadinya KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) langka.

Yakni, berupa gangguan pembekuan darah setelah penggunaan 20 juta vaksin Covid-19 AstraZeneca di Eropa. Antara lain, kejadian koagulasi intravaskular diseminata (Disseminated Intravascular Coagulation /DIC) dan trombosis sinus venosus sentral (Central Venous Sinus Thrombosis /CVST).

Dalam kaitan vaksinasi ini, EMA akan terus melakukan kajian tentang kemungkinan kausalitas kasus ini dengan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Dan, berdasarkan kesimpulan otoritas kesehatan Uni Eropa, vaksin AstraZeneca aman secara ilmiah. WHO telah menyarankan semua negara dapat menggunakan vaksin AstraZeneca.

“Karena vaksin ini dinilai manfaatnya lebih besar dari kerugiannya. Makanya, kami memutuskan vaksin AstraZeneca dapat didistribusikan dan digunakan dalam program vaksinasi nasional,” pungkasnya.

Lihat juga...