Dampak Corona, Pembayaran Iuran Sekolah di Sikka Terhambat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Marselus Moa Ito saat ditemui di sekolahnya di Kota Maumere, Kamis (4/3/2021). Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Pandemi Corona yang mulai melanda Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak April 2020 hingga saat ini mengakibatkan pembayaran iuran sekolah oleh orang tua murid sering mengalami kendala atau tersendat.

“Pembayaran iuran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) oleh orang tua murid di sekolah kami sering tersendat atau mengalami kendala,” kata Kepala Sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Marselus Moa Ito saat ditemui di sekolahnya, Kamis (4/3/2021).

Marselus mengatakan, dengan jumlah siswa sebanyak 900 lebih, sekolah swasta ini memiliki 62 pegawai yang mana guru sebanyak 52 orang dan sisanya merupakan tenaga administrasi dan keamanan.

Dia menjelaskan, dari sebanyak 52 guru, terdapat 10 guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sisanya merupakan guru yayasan yang mendapatkan gaji dari pembayaran iuran para siswa.

“Sejak pandemi Corona pembayaran iuran sering tersendat dan kami juga tidak bisa memaksa orang tua untuk membayar tepat waktu. Kami memberi kelonggaran pembayaran dengan mencicil berapapun jumlahnya,” ungkapnya.

Marselus menambahkan, pihak sekolah hanya memberikan imbauan kepada orang tua untuk membayarnya dengan cara mengangsur sesuai jumlah uang yang dimiliki.

Sebagai sekolah swasta kata dia,keberlanjutan sekolah sangat tergantung kepada iuran SPP dari para siswa dan pihak sekolah pun memahami kondisi orang tua murid.

“Pandemi Corona membuat pendapatan orang tua murid menurun dan mereka sering mengeluhkan hal ini kepada kami. Pihak sekolah pun memakluminya, dengan memberikan kelonggaran,” ucapnya.

Salah satu orang tua murid sekolah swasta di Kota Maumere, Blasius Dosi saat ditanyai membenarkan banyak orang tua murid di sekolah anaknya yang mengeluhkan pembayaran iuran saat rapat komite.

Blasius menuturkan, saat rapat komite rata-rata orang tua murid yang mengeluh kebanyakan memiliki pekerjaan sebagai petani dan pedagang namun ada juga yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara.

“Orang tua murid sering mengeluhkan iuran sekolah meskipun jumlahnya hanya Rp30 ribu per bulan. Sekolah negeri pun harus mengutip iuran dari orang tua guna membayar guru honor yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan guru ASN,” tuturnya.

Blasius menambahkan, untuk pembangunan gedung dan fasilitas sekolah, baik sekolah swasta maupun sekolah negeri mengandalkan bantuan dana dari pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat.

Lihat juga...