Desa Polosiri di Semarang Kembangkan Wisata Trabas

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Berawal dari keresahan warga akibat aktivitas pecinta trabas atau motor trail yang sering kali merusak lingkungan sekitar, kini Desa Polosiri, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, mengambil sisi positif dengan memanfaatkan potensi tersebut sebagai desa wisata trabas.

“Sudah lebih dari 7 tahun, Desa Polosiri menjadi tujuan para pecinta trabas untuk menyalurkan hobi. Namun selama itu, potensi ini tidak dikembangkan sebagai desa wisata. Hal ini yang mendorong tim Program Kemitraan Wilayah (PKW) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan Universitas Darul Ulum Islamic Center Sudirman (Undaris), melakukan rintisan desa wisata trabas dan pusat oleh-oleh khas daerah Desa Polosiri,” papar Ketua PKW, Nila Kusumaningtyas MPd, dalam soft launching atau peluncuran desa wisata trabas Polosiri, yang digelar secara daring di Semarang, Minggu (7/3/2021).

Dipaparkan, pemetaan lokasi trabas dan perizinan terkait kepemilikan lahan telah selesai dilakukan pada 2019, namun karena pandemi Covid-19, kegiatan trabas tersebut untuk sementara dihentikan dulu.

Ketua PKW Nila Kusumaningtyas, M.Pd., dalam soft launching atau peluncuran desa wisata trabas Polosiri, yang digelar secara daring di Semarang, Minggu (7/3/2021). –Foto: Arixc Ardana

“Meski demikian, kita tetap lakukan pengembangan potensi desa yang berwawasan lingkungan. Termasuk memfasilitasi pengembangan obyek wisata yang berbasis masyarakat dan budaya lokal, dengan memanfaatkan sumber daya alam atau agrowisata. Termasuk dalam penerapan teknologi tepat guna berwawasan lingkungan, dalam upaya pengembangan industri lokal, termasuk UMKM dan wisata, serta pelestarian sumberdaya alam,” lanjut Nita.

Dalam upaya tersebut, juga sudah dibentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dalam upaya peningkatan pengetahuan masyarakat desa Polosari tentang desa wisata.

“Termasuk juga peningkatan UMKM, dengan pendampingan dan pelatihan diversifikasi olahan pangan berbasis ketela (Mocaf), yang juga menjadi potensi desa tersebut. Harapannya, nanti ada sinergi antara kegiatan desa wisata tersebut dengan peningkatan produk UMKM yang ada,” tandasnya.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UPGRIS, Dr. Seno Warsito, menambahkan perguruan tinggi menjadi salah satu mitra desa dalam pengembangan potensi yang ada di wilayah tersebut, termasuk di bidang wisata dan UMKM.

“Kita berharap melalui pendampingan ini, potensi yang ada di desa Polosiri bisa terus dikembangkan, termasuk bidang wisata, pertanian hingga UMKM. Saat ini, sudah ada beberapa desa yang akan menjadi mitra LPPM UPGRIS yang akan kita dampingi dalam pengembangan potensi yang ada,” terangnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Dewi Pramuningsih, menuturkan pengembangan Polosiri menjadi desa wisata merupakan bentuk kreativitas dalam melihat sebuah peluang.

“Jika awalnya masyarakat terganggu dengan ada lalu lintas kendaraan trabas, namun dari masalah tersebut bisa dibaca menjadi sebuah peluang dengan dikembangkan secara luar biasa, menjadi desa wisata trabas. Ini bahkan menjadi satu-satunya wisata trabas di Kabupaten Semarang, yang tentu ke depan kita harapkan akan terus berkembang,” terangnya.

Ditandaskan, dengan adanya desa wisata, bisa mengatasi permasalahan yang muncul, termasuk pengangguran dan kemiskinan, dengan cara pemberdayaan masyarakat.

“Mudah-mudahan, ke depan desa wisata Polosiri juga akan menjadi desa wisata unggulan. Tentu dengan peningkatan sarana prasarana pendukung hingga layanan yang diberikan,” tambah Dewi.

Sejumlah sektor tersebut, di antaranya aksesibilitas, atraksi yang ditampilkan, penguatan administrasi hingga sarana pendukung seperti ketersediaan toilet bersih hingga fasilitas umum lainnya.

“Termasuk juga adanya suvenir hingga kuliner yang ada. Ini semua menjadi daya tarik desa wisata yang bisa dikembangkan. Termasuk juga ke depan bisa dikembangkan homestay, jadi misalnya besok ada trabas, malam ini para peserta bisa menginap dulu di Polosiri. Ini tentu akan berdampak positif pada pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...