Dinkes: Angka Stunting di Sikka Terus Turun

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Angka stunting di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalami penurunan selama 4 tahun terakhir dengan adanya gerakan bersama dan melibatkan berbagai pihak.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui di Aula Alma, Kota Maumere, Jumat (19/3/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Tahun kemarin angka stunting di Kabupaten Sikka mengalami penurunan menjadi 19 persen dari 23 persen di tahun 2019,” kata Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui saat dialog stunting di Aula Alma, Maumere, Jumat (19/3/2021).

Petrus katakan, tahun 2018 angka stunting di Kabupaten Sikka sebesar 36 persen dengan jumlah anak stunting 5.805 orang.

Tahun 2019 sebutnya, angka stunting turun menjadi sebesar 25 persen dengan jumlah anak stunting mencapai 4.164 orang.

Dia tambahkan, angka stunting kembali menurun tahun 2020 menjadi 23 persen hingga tinggal 4.709 anak saja di bulan Pebruari dan bulan Agustus menjadi 19,6 persen atau tersisa 4.010 anak.

“Tahun lalu kita ada penurunan angka stunting dari 23 persen ke 19,6 persen dengan melakukan percepatan dengan metode khusus. Kita temukan metode dan diujicoba dengan keberhasilan 96 persen,” ucapnya.

Pertrus berharap dan metode Kolombia ini direplikasi di setiap desa dan kelurahan dan bila berjalan dengan baik maka satu dua tahun ke depan Kabupaten Sikka bisa bebas stunting.

Dia menerangkan, Metode Kolombia menerapkan keseimbangan nutrisi dengan dominan protein dan protein yang digunakan yakni telur ayam.

Ia katakan, setiap anak stunting wajib mengkonsumsi satu butir telur ayam setiap harinya selama 6 bulan.

“Kita dorong desa dan kelurahan untuk memakai metode ini dengan ketersediaan dana yang ada di desa dan kelurahan mereka agar bisa menurunkan stunting. Kita menemukan metode dan hanya analisis gizi, sementara edukasi dan penanganannya ada di desa dan kelurahan dibantu oleh Puskesmas,” jelasnya.

Sementara itu Koordinator Kabupaten Pembangunan Partisipatif P3MD Kabupaten Sikka, Yulius Herta Arjunto mengatakan, desa bisa menganggarkan dari dana desa untuk penanganan stunting.

Herta tegaskan, dana tersebut bisa digunakan untuk melakukan intervensi gizi dan mendatangkan bidan serta untuk penyediaan air bersih dan perbaikan sanitasi untuk mencegah infeksi pada bayi yang dapat memicu stunting.

“Dana Desa dapat digunakan untuk kegiatan penanganan stunting sesuai musyawarah desa,” ungkapnya.

Herta menjelaskan, pemanfaatan Dana Desa untuk penanganan stunting bisa dimulai lewat membuat pemetaan sasaran warga desa yang terindikasi dan perlu mendapatkan penanganan.

“Selanjutnya lewat Rembuk Stunting Desa, seluruh pemangku kepentingan di desa merumuskan langkah yang diperlukan dalam upaya penanganan stunting termasuk bekerja sama dengan dinas terkait seperti Dinas Kesehatan,” pungkasnya.

Lihat juga...